Tahun 2014, rumah kami terkena penggusuran. Setelah mencari kontrakan kami dapat dekat dengan rumah. Hanya saja kontrakan itu terlalu kecil (3x7 dari depan hingga mentok belakang) dan ada di gang sempit yang buntu, sehingga sulit untuk mama melakukan aktivitas memasaknya dan juga perabotan yang begitu banyak makin membuat kontrakan penuh. Jika hanya untuk tempat tinggal dan perabotannya sama seperti keluarga lain tidak akan sepenuh itu.
Kebetulan adik bungsu bapak menawarkan untuk menjaga toko yang baru dibelinya. Jadilah kami hidup terpisah, mama tinggal di toko bibi, bapak yang pagi hari mengantar es dan siang hari setelah selesai pergi ke tempat mama dan menginap di sana. Ervina yang masih pertengahan semester tetap melanjutkan sekolah di sini. Hasan yang setelah lulus smp melanjutkan sekolahnya di kampung dan tinggal dengan kakek nenek. Jadi di kontrakan hanya saya berdua dengan ervina. Biasanya saat weekend ervina akan ikut bapak ke tempat mama dan menginap di sana.
Karena saat itu saya sudah bekerja, jadi ervina selalu menghabiskan waktunya sendirian, apalagi saat saya kebagian shift siang dan pulang tengah malam bahkan jam 1 malam baru sampai rumah. Tapi dia selalu mengerti dan gak pernah mengeluh. Makanya saat saya libur (saya libur saat weekdays) sebisa mungkin saya ajak jalan" atau sekedar pergi ke pasar malam dekat rumah dan jajan semua yang dia mau.
Saat naik kelas 5sd ervina pindah sekolah dan tinggal dengan mama. Dan saya sendiri masih di kontrakan dengan bapak yang masih mengirim es batu sampai siang, selebihnya saya sendirian.
Tidak lama toko milik bibi saya ini akhirnya dibeli oleh bapak, meskipun tempatnya masih ngontrak. Lalu karena saya berhenti dari pekerjaan akhirnya saya pindah bergabung dengan keluarga saya, dan depot es milik bapak juga sudah di jual.
Dekat rumah ada pembangunan rusun untuk warga yang terkena relokasi dari daerah lain. Ervina sering sekali main ke sana bareng teman temannya.
Saat itu Hasan sudah lulus dan kembali ke Jakarta. Kontrakan yang kami tempati ini ada dua lantai. Di bawah untuk toko, kamar mandi dan dapur yang sempit. Di atas hanya ada satu kamar dengan teras selebar 1 meter. Jadi saya, mama, hasan dan ervina tidur di dalam sementara bapak lebih suka tidur di teras, jadi pintu kamar tidak pernah ditutup kecuali saat hujan.
Menjelang ramadhan saya dan bapak ditawari menjaga toko saudara karena dia hendak pulang kampung sampai lebaran. Jadilah saya dan bapak menjaga toko di daerah jakarta utara tersebut. Sehari setelah menjaga toko bapak pulang untuk mengambil perlengkapan kami, sebagai gantinya Hasan datang untuk menemani saya (saudara saya masih berangkat besoknya). Namun tengah malam saya dapat telpon kalau ervina masuk rumah sakit dengan kondisi tidak sadarkan diri. Tentu saja saya dan hasan kaget karena setau kami dia sehat sehat saja. Saudara saya pun ikut hawatir.
Besoknya setelah saudara saya berangkat bapak datang menjemput hasan untuk menemaninya mencari rs lain karena rs yang ditempati saat ini beralasan tidak ada kamar rawat. Karena ervina berumur 11 thn sedangkan ruang rawat anak maksimal usia 9 thn dan ruang rawat dewasa minimal 12 thn (saya gak tau apa memang benar ada peraturan begitu)
Jadi selama belum mendapat kamar ervina ditempatkan di ruang igd. Sementara hasan menemani bapak, saya menemani mama di rs. Mata mama sudah bengkak, karena ervina belum sadar juga yang artinya dia koma. Saya sebagai anak tertua selalu berusaha tenang, karena kalau saya ikut nangis dan panik siapa yang akan menenangkan mama, ditambah lagi ruang igd yang penuh dengan pasien dengan kondisi yang kritis. Terutama pasien di sebelah yang hanya terpisah tirai yang seorang supir kontainer yang sedang sekarat karena terjepit di antara dua kontainer saat sedang mengecek kondisi ban belakang kendaraannya. Sekilas saya dengar bahwa organ dalamnya rusak parah bahkan operasi pun tidak bisa menolong sepenuhnya. Bercak darah yang saya lihat dan suara lirihnya yang parau karena kesakitan yang amat sangat, benar" membuat tidak tahan beberapa saudara yang datang menengok, namun tak sampai sehari akhirnya bapak supir menyerah dan menghembuskan napas terakhirnya diiringi isak tangis keluarganya.
Saat masuk igd ervina langsung menjalani scan secara menyeluruh namun tidak ada kejanggalan apapun. Semua kondisinya baik" saja. Dokter hanya memdiagnosis kemungkinan terjadinya infeksi saraf otak.
Setelah berkeliling dan mendatangi sekitar belasan rumah sakit, bapak tidak mendapatkan satupun rs yang mau menerima karena kondisi ervina yang sudah tidak sadarkan diri. Akhirnya rs yang ditempati ervina pun mau tidak mau menerima ervina dirawat di ruang rawat anak.
Setelah itu pemeriksaan lengkap pun dilakukan, namun tidak ada hasil penyakit sama sekali, hanya gula darahnya yang sedikit tinggi.
Karena saya tidak ada saat ervina tidak sadarkan diri saya pun meminta mama menceritakan kejadiannya.
Cerita di bawah berdasarkan penuturan mama:
Malam itu seperti biasa, setelah toko tutup mama tidur berdua dengan vina (sepertinya ervina terlalu panjang untuk disebut) sementara bapak tetap tidur di teras karena lebih sejuk. Tengah malam bapak melakukan shalat malam seperti biasanya. Saat dzikiran bapak melihat vina seperti bangun. Vina memang sering terbangun tengah malam untuk minum.
"Vina bangun? Mau minum?" tanya bapak. Tapi vina hanya diam saja. Bapak jadi tak yakin, "ini anak beneran bangun apa gak? " karena kamar yang lumayan gelap dan hanya sinar lampu dari bawah sebagai sedikit penerangan (kebiasaan keluarga kami memang mematikan lampu saat tidur)
Untuk memastikan bapak menyalakan lampu. Terkejutlah bapak yang melihat vina yang menatap ke arah pintu di kakinya (ke arah teras) dengan mata membelalak. Lalu pandangannya beralih ke atas sampai matanya hampir putihnya saja yang terlihat. Bapak pun langsung membangunkan mama.
"Ma.. Mama, ini vina kenapa?" mama yang bangun dengan kaget pun langsung menjerit kecil melihat vina.
"Ya Allah..!! Vina, vina. Sadar nak" mama mencoba menyadarkan vina dengan mengguncang guncang tubuhnya. Karena tak merespon bapak menggendong vina ke bawah untuk membawanya ke rs. Begitu sampai di bawah tangga tiba" tubuh vina kejang" dengan begitu hebatnya. Mama yang sedang memeluk vina (karena bapak sedang membuka pintu toko) bahkan sampai kewalahan dan pelukannya hampir terlepas. Mama sudah berteriak ketakutan karena badan vina yang semakin dingin membangunkan sebagian tetangga. Bapak meminta tolong kepada tetangga sebelah kami yang belum tidur untuk minta dicarikan taksi sementara bapak menggantikan mama memegangi vina.
Dengan bantuan beberapa tetangga (bapak pun kewalahan menahan tubuh vina yang kejang) mereka membawa vina ke depan gang dengan taksi yang sudah menunggu.
Begitu masuk ke dalam taksi tubuh vina yang kejang" langsung berhenti dan vina langsung tak sadarkan diri (pingsan) dan tak lama kemudian sampai di rs.
Kembali lagi ke rs. Karena tak ada penyakit yang ditemukan kami pun sempat bingung, dan pihak rumah sakit juga tidak bisa memberikan pengobatan tanpa adanya kepastian sakit yang diderita. Hanya infus sebagai pencegah dehidrasi dan kekurangan nutrisi selama vina tak sadarkan diri. Tak lama Babeh datang untuk menengok (orang yang sama yang menolong bapak saat serangan siluman ular). Seolah-olah sudah tau apa yang terjadi Babeh datang dengan membawa sebotol aq*a besar air yang sudah dibacakan doa". Vina sempat tersadar beberapa kali meski hanya mengerakkan kepalanya sedikit namun matanya tetap terpejam.
Lalu Babeh mengajak bapak berbicara,
"Anakmu ini gak sakit. Tapi dia (rohnya) lagi dibawa pergi ke alam lain. Untungnya vina ini kuat nolak gak mau ikut jadi sempet beberapa kali sadar tapi gak sepenuhnya."
Kagetlah bapak mendengarnya. "kenapa bisa begitu kak?"
"Di deket rumahmu ada proyek pembangunan?"
Bapak mengangguk mengiyakan
"Gara gara proyek itulah makanya vina jadi begini"
"maksudnya?" bapak bingung karena tidak mengerti sama sekali
"Vina itu sering main ke sana kan. Nah proyek itu orang pelaksananya make syarat-syarat tertentu. Salah satunya tumbal dan vina lah yang mau diambil jadi tumbalnya."
Bapak benar" terkejut dan terpukul, bahkan badannya terlihat gemetar menahan perasaan di dalam hatinya.
"Nanti kalau vina sadar lagi coba tetesin air yang saya bawa ini ke matanya dan diminumkan ke dia. Jangan lupa ngajiin terus setiap hari jangan sampe putus" pesan Babeh sambil menepuk pundak bapak untuk menenangkannya.
Dan saat vina kembali sadar meski cuma sedikit menggerakkan kepalanya dan merintih pelan bapak segera mengambil air dengan sedotan untuk diteteskan ke matanya. Namun anehnya kedua tangan vina segera menutupi matanya seolah olah tahu maksud bapak dan tidak ingin bapak melakukannya, padahal matanya terpejam rapat dan tak mungkin melihat. Bapak berusaha menyingkirkan tangannya.
Lagi lagi keanehan terjadi, bapak tidak bisa menggerakkan tangannya sedikitpun bahkan setelah dibantu om sam (sepupu bapak) yang sedang ada di situ. Akhirnya sedotan diberikan ke mama. Bapak memegangi tangan kanan vina dan om sam tangan kiri. Benar" tak masuk akal, tenaga 2 lelaki dewasa bahkan tak sanggup melawan tenaga anak umur 11 thn ditambah kondisinya yang sedang tidak sadar.
Akhirnya setelah bapak membaca ayat kursi dan shalawat juga beberapa surat pendek akhirnya mama bisa meneteskan air ke kedua mata vina (dibantu saya yang membantu membuka kelopak matanya yang.. Ya ampuunnn luar biasa susahnya).
Setelah 3x air berhasil diteteskan dan sedikit diminumkan dengan sedotan (dengan usaha luar biasa) akhirnya vina bangun dan membuka matanya. Yang terjadi pertama kali saat dia sadar adalah menangis sejadi jadinya.