Langsung ke konten utama

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6)

Sebelum ane mulai lanjut ke part 6, ini semua bener2 terjadi sesuai yg ane alamin dan saksikan dengan beberapa teman tanpa bermaksud meremehkan agama tertentu. Cerita pengalaman ane ini cuman buat perenungan viewer aja, terutama bagi ane sendiri saat itu yg bener2 ga percaya bahwa jiwa yg dikorbankan untuk Iblis itu sebagai persembahan memang ada. Jangankan di pedesaan, di kota seperti kota batam saat itu aja terjadi. Wallahualam gansis.


Oke mari kita mulai.

Setelah mendapatkan goreng2an bonus dari sisa2 penjualan kantin, ane pun dengan beringas mengkonsumsinya. Maklum, sudah masuk jam makan siang, apalagi abis ngangkut si melisa yg berbobot seperti beras sekarung 50kg. Disela-sela kami menunggu bel yg akan menandakan berakhirnya jam pelajaran hari itu, ane pun menyarankan si melisa buat sms sopirnya buat jemput sekarang. Si melisa pun menuruti saran ane, segera dia mengambil hape dari sakunya dan mengetik sms.


"eh nanti keluar UKSnya tunggu sudah agak sepi aja, kasian pasti melisa bakal diliatin anak2", ujar ane yg khawatir.

Adegan ane gotong menggotong melisa melintasi beberapa kelas pasti mengundang tanya beberapa makhluk kelas yang kepo.

"iya, aku malu. Apalagi aku anak baru", ujar melisa yg pasrah dengan hari itu.

"oke, nanti setelah bel berbunyi kita tunggu 15 menitan, biasanya sudah sepi bener", ujar ane.

Tak lama bel berbunyi dan kami pun saling lihat satu sama lain. Ane pun segera menutup pintu UKS dan hordeng jendelanya, Maksud ane biar menghindari kepoan dari beberapa anak kelas lain termasuk kelas ane.


2 menit kemudian ternyata pintu UKS diketok dan suara wali kelas ane memanggil ane.

"Dit... Ini ibu, buka, gimana melisa?", tanya bu wali kelas ane

ane segera membuka pintu dan menyaksikan seluruh warga kelas ane di belakang wali kelas.

Ane pun segera menyuruh bubar para warga kelas ane, dengan menjawab si melisa sudah sadar dan lagi makan goreng2an. Ane pun membuka pintu dan membiarkan para warga kelas ane yg perhatian buat melihat dari pintu.

"eh, jangan masuk, sudah pengap begini, udah bubar sana", ujar ane ke teman2 kelas ane.

wali kelas ane pun masuk dan segera menghampiri melisa dengan berbicara pelan. Ane kagak denger saat itu karena sibuk menghalau warga kelas buat masuk.


"mel, cepet sembuh ya", rata2 begitu suara teman2 sekelas ane.

melisa pun membalas dengan mengiyakan dan mengucapkan terima kasih yang diiringi wajah yang penuh ceria.

"dah ayok bubar, uda aman kok melisa, ada cowoknya yg ngurus tuh", ujar Yuni sang provokator

"annjjjiiirrr lu, gue cipok baru nyahok lu tar", ujar ane rada genit

"ahhhh mau dong, ayo kapan", balas Yuni yg memang rada mesum genit wakakakkaka

mereka pun bubar dengan tenang dan wali kelas ane pun akhirnya berbicara dengan ane.


"Ketua kelas, yg jemput melisa sudah dikabarin belom?", tanya wali kelas ane.

"sudah bu, aman aman, beres pokoknya tenang aja", ujar ane berusaha meyakinkan

"sippp, memang ketua kelas ibu paling bisa diandalkan", ujar wali kelas ane dengan menepuk2 kepala ane.

"ibu pulang saja, biar kami berempat nemanin melisa sampai jemputannya datang", ujar ane

Wali kelas ane pun menyarankan ane kalau ada apa2 ke ruang guru saja, karena dia masih harus ngoreksi beberapa lembar ujian.


Ane pun mengangguk dan segera menutup pintu kembali menghindari warga kelas lain yg kepo.

"mel kamu nggak papa? kalo masih pusing baring aja deh, kamu mau minum teh kah?", tanya ane

"iya ne kok aku mual dan pusing lagi ya, padahal uda makan gorengan", ujar melisa

"oh wajar, masuk angin emang begitu", ujar bily

melisa pun berbaring kembali dan sesekali tersenyum malu2 ke arah kami yg selalu melototin si melisa.


"ih, uda jangan diliatin, ge er tau", ujar melisa

"aduh maap, suka kelupaan kalau aku tampan suka bikin malu cewek2", ujar bily dengan pede

kami pun ngakak2 dan si mister langsung menjitak kepala bily.

"eh, aku mau ambil tas aku dan melisa dlu, kalian jaga melisa dlu, nanti gantian ambil tas masing2", ujar ane.

"eh, ga usa, uda disini aja, biar aku ambilin tas sama mister, lu ma si bily tungguin disini aja", ujar lexi yg nampaknya kalau teman kesusahan paling siap membantu

"oh yauda, sekalian tolong rapi2in semua buku2 di meja ya masukin aja ke dalam tas", ujar ane

"beres, ayok mis", ujar lexi yg segera bergegas keluar dengan mengintip sekitar. Memastikan tidak ada lagi makhluk2 kepoers yang ingin tau kejadian pingsannya melisa.


Ane dan bily pun duduk dengan tenang, maklum si melisa mulai memejamkan matanya. Dengan mengkode supaya silent, si bily kemudian mengecek hapenya. Baru 5 detik, tiba-tiba si melisa mulai mengeram.....


"errrrrrrrrrrrrrrrrrrr...... errrrrrrrrrrrrrrrr.... errrrr.............", eraman melisa yang terbaring sembari kejang-kejang.

ane saat itu kaget dan tak percaya, secara otomatis ane dan bily langsung berdiri dan melihat satu sama lain kebingungan.

"aaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrhhhhhhhhhhh arrrrrrrrrrhhhhhhhhhhhhhhhhhhh", suara eraman melisa semakin keras dan bener2 serak.

Ane pun langsung mendekat dan berusaha membangunkan melisa agar berhenti dari mengeram2 ngeri begini.


"keknya, kerasukan ne si melisa, dit", ujar bily yang segera memegang kaki si melisa yang meronta-ronta.

"dit, gimana ne dit", ujar bily yg semakin panik karena menendang2 tangan dan badan si bily (terkadang kena juga ke biji menyan bily waakakakakaa)

ane pun kagak pernah ngadepin orang kerasukan, palingan orang kecelakaan doang saat itu. Ane segera menyarankan si bily untuk membaca surat2 pendek dalam Alquran.

"surat apa?", tanya bily

"ayat kursi bisa ga?", tanya ane yg juga belum apal ne ayat kursi saat itu

"ga bisalah, ane cuman iqro 4", ujar si bily yg membuat ane kaget dan sedikit ketawa saat itu karena cengiran bily bener2 lucu.


"anjir, uda deh baca doa kulhu aja apa alfatihah, kalo ga astagfrullah aja dlu sampai si lexi dan mister datang", ujar ane

Surat2 pendek pun kami baca2kan dan setelah beberapa detik tiba2 rontaan dan eraman dari melisa berhenti. Saat itu ane pun sedikit lega tapi tak percaya kami bisa menghentikan kerasukannya melisa.

"eh ada bakat ustads juga kita ne ya", ujar bily yg kembali nyengir karena takjub menghentikan kerasukannya melisa.

ane jujur aja saat itu rada bangga dan juga lega karena berhasil menghentikan kerasukan.


Tak lama mata melisa terbuka tapi melotot ke arah bily. Ane saat itu masih suasana tertawa akibat candaan si bily.

"dit, liat melisa", ujar bily dengan wajah panik.

ane pun melihat wajah melisa yg melotot ke arah bily dan menunjukkan giginya seperti geram.

"ampun melisa ampun ampun", ujar bily dengan merapatkan tangannya memohon maaf.

"Dit gimana ne?", ujar si bily meminta arahan ke ane.

"Ayo baca lagi bil surat2 pendek", ajak ane.

kami pun membaca dengan keras dan ketakutan.


tiba-tiba, si melisa bangun duduk tapi ane kaget rupanya dia membalikkan badannya. Si melisa bangun dengan posisi seperti anjing. Ane dan bily pun semakin memperkeras bacaan surat2 pendek kami. Dan yang terjadi kemudian si melisa melolong seperti serigala yg bener2 memilukan hati.

"auuuuuuuuuuuuuu aaaaaauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu aaaauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu aaauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu", suara melisa yg beneran di lolongan yg paling akhir ane mendengar seperti campuran lolongan tapi juga terdengar tangisan gansis (ente coba cari lolongan serigala yg ada tangisannya nah begitu gansis kira2 tapi ane yakin kagak lebih horor dari yg ane denger).

ne dan bily mundur dari ranjang kasur UKS dan bahkan tak sadar tangan ane menyenggol gelas hingga pecah. Bily saat itu terduduk gansis, bener2 ketakutan dan takjub. Si melisa bener2 layaknya serigala atau anjing ane ga paham, suaranya bener2 suara lolongan anjing atau serigala yg ga ada suara2 manusianya saat itu. Ane bener2 takjub, kalau ini akting, ndak mungkin bisa niruin suara begini, ane hakkul yakin gansis ga akan bisa ngehasilin suara begini. Lolongan anjing yg diiringi sayup2 tangisan.


Si melisa yg berposisi seperti sedang main anjing2an tidak menghiraukan ane. Malahan kepalanya selalu di tengadahkan ke atas. Sesekali dia melolong panjang, dan menunduk beberapa detik kemudian melolong kembali bener2 membuat ane kagak tau harus gimana.

lexi dan mister kembali dengan membawa tas2 ane dan melisa.

"eh kenapa dia?", ujar si lexi keheranan

"anjiiiiirrrrrr, ini horor abis kerasukannya, anjiiirrrrrr", ujar si mister yg ga percaya atas kerasukan si melisa dengan melolong2.

"eh kalian apain trus bantu doalah", ujar lexi

"udah, awalnya cuman eram2an, kami baca surat2 pendek malah jadi melolong2 begini", ujar si bily dengan nada panik.


Ane pun teringat bahwa si melisa ini pergi ke gereja, pasti sama dengan si lexi dan mister pikir ane saat itu.

"ei, kalian kan sama agamanya dengan melisa, coba bantu doa2 kalian", pinta ane ke lexi dan mister.

"anjiiiirrrr, beda gereja anjirrrr", ujar si mister

"beda gimana", ujar ane kagak paham

"ya beda, ane katolik, si lexi protestan, nah si melisa kristen apaan?", respon mister dengan panik

"alamak, yang penting coba aja dah doa2 kalian2", pinta ane.


"anjjiiiirrr yawda de aku coba", yang diikuti bacaan doa mister yg ane denger sayup2 tentang roh suci, roh kudus, bunda maria, terpujilah2 dan sebagainya ane kagak denger karena sibuk memperhatikan reaksinya melisa. Mungkin juga karena si mister ngomong cuman komat kamit doang dengan cepat jadi kagak jelas.

"bapak yesus di surga, tolonglah hamba kita, beri kekuatan melawan godaan setan", doa lexi yg ane dengar dengan lebih jelas.

namun sebelum lexi melanjutkan doanya dengan merem2 dan penuh penghayatan, tiba2 lolongan si melisa berhenti.


Ane pun segera menabok si lexi yang menghayati bener doanya. Seketika si mister pun berhenti dan menyaksikan melisa yg masih posisi seperti serigala. Tapi kali ini matanya mengarah ke kami berempat dengan tatapan penuh bengis menurut ane untuk menggambarkan tatapan melisa saat itu. Antara meremehkan dan juga ingin menakuti kami tatapan melisa saat menoleh ke kami yg berhenti melolong.

"eeehhheeeee ehhheeeeee...... hhhhaaaahhhaaaaaaa hhhhhhaaaaaahhhhhaaaaaa.... hhhhaaaahhhhhhhhaaa.... hhhaaahhahhaaaaaa", suara tertawa terbahak2 dari melisa dengan suara wanita seperti tante2 gansis.
melisa pun kembali melototin kami ber empat.
"pergiiiiiiiii..... perrrrgggiiiiiiii....", suara melisa yg bersuara tante2 tapi penuh serak.
Ane bener2 kagak tau mesti gimana, dan memberanikan diri buat mendekati melisa.
"meeelll, sadar mellll, sadarrr", pinta ane dengan penuh iba
"gggrrrrrrrrrrrrrrrrrr..... hrrrrrr.........", nafas suara melisa saat itu ketika ane berusaha mendekati si melisa namun segera dipegang lexi buat jangan mendekat.

"Eh, si sopirnya uda dihubunginkan, coba cek di parkiran mungkin uda datang", tanya lexi ke ane.
"eh iya, ane yg pergi sekarang?", tanya ane
"jangan2 biar aku aja, coba panggil wali kelas kan masih di ruang guru", saran lexi.
"aku pergi panggil bu wali kelas", pinta mister.
ane kagak tau niat mister apa karena pengen kabur apa pengen nolong beneran wakakakak penuh inisiatif pertama kali saat itu.
Si melisa masih dalam posisi seperti serigala namun cuman nafas terengah-engah dengan sedikit eraman dan sedikit meremas2 kasur dengan kukunya.

Ane pun mengajak si bily buat keluar dan menunggu di depan pintu UKS saja. Tak lama mister datang dengan bu wali kelas yang lari tergopoh2 dengan muka yang penuh panik.
"gimana dit, si melisa kenapa?", tanya bu wali kelas ketika hampir sampai mendekati pintu
"bu, melisa makin parah, sepertinya kerasukannya parah bener", ujar ane
"hah, kerasukan, oh tuhan", ujar wali kelas ane.
"kau siapa, kenapa mengganggu murid saya", suara wali kelas ane yg sudah membaca doa terlebih dahulu dan mengeluarkan salib di kalungnya.

Melisa kembali melotot dan kali ini sedikit tertawa keras tapi suaranya kali ini cowok gansis. Masya allah ane bener2 takjub, kok bisa berubah2 suara si melisa.
"kau tak tau aku ini siapa, kau itu hanyalah sampah, nanti kau pun ikut aku", ujar melisa dengan suara cowok parau.
"dasar setan terkutuk, pergi kau dari tubuh tak berdosa ini", ujar wali kelas ane
"hihhhaahahahhaha hhhhhiiiihahahhahaha hhhhiiihhhhahahhahaha", suara tertawa melisa yang melengking membuat ciut nyali wali kelas ane.

"Dia ini gerejanya dimana?", tanya wali kelas ane ke mister yang menjelaskan gereja di batu ampar.
"gereja di batu ampar", bu wali kelas ane pun keheranan dan menyarankan mister untuk mencari tau pendeta gereja di tempat melisa ibadah.
untungnya, taklama si sopir pun datang dan anehnya ane kagak melihat ekspresi muka dari sang sopir yang kaget. Memang dia tampak kebingungan, tapi tak ada ekspresi panik atau heran dengan apa yg dilihat. Si sopir pun disarankan bu wali kelas ane supaya menelpon ortu melisa.

"ortunya lagi di luar batam, coba saya telfon mereka dlu", sembari si sopir mencoba menghubungi ortu si melisa.
ane kagak denger omongan si sopir karena pergi menjauh dari UKS seperti tidak ingin didengar pembicaraan oleh kami. Beneran, ane kagak melihat adanya rasa panik atau iba, atau layaknya bawahan (sopir) yg cemas dengan anak gadisnya majikan yang kerasukan parah begini.
"oh, sudah bu, sesuai instruksi papanya melisa, saya sudah menghubungi pendeta *******, sebentar lagi datang", ujar sopir.
Kami pun sedikit lega dan tampak raut wajah dari wali kelas yang merasa tidak enak tapi juga berterima kasih karena mendampingi melisa dan tidak pulang ke rumah.

Melisa pun seperti tertidur tetapi masih mengeram-eram dengan posisi masih seperti serigala.
Wali kelaspun mengajak si sopir berbicara empat mata dengan menjauhi kami. Ane kagak denger apa yg dibahas mereka. Ane dan 3 cecungukers bener2 mati kutu mau ngapain kami saat itu. Mau berdoa ala agama masing2 percuma saja, bahkan kami mulai menertawakan si mister yg berdoa kagak jelas tapi berusaha konsentrasi. Lexi ternyata dia sudah ambil kursus jadi pendeta muda, makanya dia bisa baca doa jelas dan penuh penghayatan begitu.

"eh emang beda gereja, beda pendeta ya?", tanya ane saat itu
"ya bedalah, beda juga pengikutnya, tata cara ibadahnya, pantangannya", ujar lexi yg diikuti kata o dari ane yg kagak tau sama sekali urusan pergerejaan.
Sesekali kami mendengar si melisa cekikikan dan marah-marah tidak jelas. Ane pun sempet candain si bily, kalau dia berani nembak melisa saat ini ane kasih 100rb cash wakakakakaka.
Si bily pun menghina ane karena candaan ane kagak pas. Ane pun menanyakan apa mau nikah sama melisa setelah tau begini. Bily pun tak menjawab dan penuh ragu untuk tetap naksir sama melisa wakakakkaka maklum muka bily bener2 seperti orang habis jatuh dari motor. Antara sadar dan gamang dengan keadaaan wakakakkaa.

Tak lama datanglah si pastur atau pendeta dari gerejanya si melisa. Ane pun segera membuka pintu UKS. Masya allah gansis, ane saat itu mencium bau menyengat yg ane pernah hirup di dekat lt.1 rumah si melisa. Padahal sewaktu kami berempat di dalam UKS, tak ada bau menyengat ini. Ane kagak tau bau apaan, antara bau dupa sama rempah2 ga jelas ane kagak bisa gambarin. tapi ini bukan bau menyan gansis, ane yakin bin mustahak.
"eh kok bisa bau ini ada disini", ujar lexi yang heran
"iya ini tadi ga ada bau ini", ujar bily yg juga yakin sama ane.
"udah buka semua jendela dan hordeng biar udara nya masuk", ujar ane.

Si pendeta pun masuk dan segera berdiri di tengah ruangan UKS. Si pendeta pun mengeluarkan al kitab dan beberapa kalung salib yang disertai perlengkapan lain ane kagak paham karena disuruh tunggu di luar sama ne pendeta.
"terpujilah bapak kudus di surga yang selalu menanti....", doa si pendeta yang tiba2 terhenti karena si melisa kali ini tidak lagi seperti serigala, tapi dia MELAYANG GANSIS
MELAYANG!!!!! seperti layaknya jurus bangau kungfu china yg berdiri diatas satu kaki dan tangan yang dilebarkan seperti sayap. Namun tanpa si melisa kakinya tidak menyentuh kasur gansis, masya allah wallahualam bener.

kami semua terpana dengan adegan melayang dari si melisa. Sampai mister dan bily kagak kuat ngelihatnya, mungkin bener2 shock atau horor ane kagak tau. Ane aja ngelihat itu beneran bukan lagi merinding tapi bener2 seperti mati ketakutan pengen lari dan ga mau urusan lagi dengan melisa yang kerasukan. Ini bukan level ane yg cuman anak SMA masih berkutat dengan asmara sekolah wakakkakaka.

Ane bener2 takjub dan ngeri, tapi ane semakin perhatikan si melisa ini bukan seperti menirukan jurus bangau tapi malah seperti tangannya terikat dengan digantung seperti di salib gansis. tak lama si melisa kembali bersuara ketika si pendeta kembali membacakan doanya...
"errrrrrrrrrrrr hahhahahahahhahaha errrrrr hahahahahhahahha", suara tertawa melisa yang begitu parau setiap doa yang dibacakan pendeta ini dengan penuh semangat.
"dasar munafffiiiikkkkk munnnnaaaffiiiiiiikkkk, hahahahhahahahahha", ujar melisa yg memutar2 kepalanya dengan posisi masih melayang
"kau itu muridku.... muriddkuuuu... untuk apa kau membaca2 kitab itu", ujar melisa

Si pendeta tetap cuek dan membaca dengan keras dan fokus dengan kitab yang dibawanya.
"kau tau aku ini siapa haaah? hahahahahhahah", ujar melisa
ane kali itu beneran penasaran dan pengen tahu. Detak jantung ane mendorong ane buat berani berkomunikasi dengan melisa yg kerasukan.
"kau siapa emangnya, kenapa kau merasuki melisa, melisa salah apa hah?", hardik ane yg maju mendekati melisa.
"kaauuuu.... kkkaaauuuu kauuuuu baikkk, tapi melisa milikkuuu", ujar melisa yg kerasukan

"kau siapa?", tanya ane lagi
"aku raja naga di neraka, aku raja aku raja, sedang dia ini pengikutku", tangan melisa menunjuk si pendeta.
"kau itu tempatnya sama denganku, neraka neraka neraka hahahahahaha", ujar si melisa
si pendeta pun kaget dan salah tingkah saat itu gansis.
"aku ini raja naga, perjanjianku... melisa milikkuu hahahahahha", ujar melisa dengan suara cow yang parau.
"tak ada yg bisa mencegah, sudah saatnya, saatnya dia ikut aku, 17 tahun aku menanti, sudah saatnya", ujar melisa lagi.
"hahahahahhahaha, sudah diam kau, aku pergi sekarang", ujar melisa yang langsung terbaring pingsan dan hampir jatuh ke bawah lantai.

Ane dengan sigap menangkap tubuh melisa yang terkulai dan tak sadar. Si pendeta pun seketika langsung keluar dan berdiskusi dengan sopir. Sopir pun meminta ijin untuk mengangkut melisa ke mobil bersama pendeta. Ane pun dan teman2 disarankan sudah tidak perlu membantu, cukup mereka berdua. Ane pun bengong, karena mereka tidak ada mengucapkan terima kasih atau menceritakan akan memberi tahu perkembangan melisa atau mengajak kami ke rumah sakit.

Ane berempat plus wali kelas mengikuti sopir dan pendeta menggotong melisa ke dalam mobil volvo hitam. kami pun tidak ada diklakson, mereka cuman segera kabur dari parkir meninggalkan kami dengan bengong dan tak paham apa yg terjadi. Ane berulang kali tetap bersyukur, paling enggak kondisi sekolah sudah kosong cuman wali kelas ane dan kami berempat yang menyaksikan kejadian ini. Kalau tidak, pasti sudah menjadi heboh dan bisa membuat malu melisa. Ane kagak yakin melisa bakalan mau sekolah lagi jika seluruh murid menyaksikan apa yg ane saksikan.

"bu, melisa itu mau dibawa ke rumah sakit mana ya", tanya ane polos
"ibu pun tidak tahu, sudah kalian segera pulang ke rumah, terima kasih yg banyak. Untung kalian belum pulang. Kalau tidak ibu tak tau harus gimana menghadapi yg begitu", ujar wali kelas
"tapi ibu ini sepertinya pendeta juga ya", tanya ane polos
"pendeta itu cow nak, ibu cuman berani2 saja", ujar wali kelas.
ane dan teman2 pun segera pulang naik mobil lexi dan berdsikusi tentang kejadian ini.

next : MELISA YANG TAK PERNAH KEMBALI KE SEKOLAH..


Postingan populer dari blog ini

Privacy Policy

  Narastudio built the app as a Free app. This SERVICE is provided by Narastudio at no cost and is intended for use as is. This page is used to inform visitors regarding our policies with the collection, use, and disclosure of Personal Information if anyone decided to use our Service. If you choose to use our Service, then you agree to the collection and use of information in relation to this policy. The Personal Information that we collect is used for providing and improving the Service. We will not use or share your information with anyone except as described in this Privacy Policy. Information Collection and Use For a better experience, while using our Service, I may require you to provide us with certain personally identifiable information. The information that I request will be retained on your device and is not collected by me in any way. The app does use third party services that may collect information used to identify you. Link to privacy policy of third party service prov...

Misteri Suara Tanpa Wujud

Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga. Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil. Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam. Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu. Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudn...

Pengalaman Bertemu Hantu/Jin (Chapter Jogjakarta)

Selamat datang di Jogja, Kami (makhluk ghoib) bukan hanya gossip Sahabat-sahabat ane yg pernah ane sebutin di chapter Palembang, semua berdiskusi mengenai pilihan universitas sebagai pijakan lanjutan pendidikan yg lebih tinggi. rata-rata sahabat ane memilih melanjutkan ke Universitas yg ada di Sumsel pula. Sedang ane, sepakat dengan si babay untuk melanjutkan ke Jogjakarta di Universitas yg terkenal dengan jaket warna tanahnya itu. Untuk memuluskan persiapan kami supaya dapat lulus, si babay menyarankan untuk ambil lembaga kursus intensif untuk persiapan SPMB. Neu**n yg berada di nyutran menjadi pilihan kami berdua dan setelah melaporkan biaya ke emak ane. Alhamdulilah emak ane setuju dan ane pun terdaftar di kursus ini. Rupa2nya emak si babay daftarin dia bukan di kursus sini, malah di pesaingnya. ini pegimane cerite, yg nyaranin malah ke tempat laen wakakkakakkaa. dengan penuh rasa tidak enak dan kekecewaan dengan emaknya, si babay berulang kali meminta maaf ane gansis.  Ya sudah...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4) Sekitar jam 8an malam ane akhrinya sampai di rumah. Emak ane ternyata lagi nonton tivi barenga adik2 ane. Sembari melepas baju di dalam kamar ane, telpon rumah pun berdering. Kebetulan karena memang di renovasi rumah ane, dari ruang tamu jadi kamar ane, ne telpon diinapkan di kamar ane. Mungkin disengaja apa kagak, tapi memang ne telpon rata2 berbunyi nyariin ane. Setelah berganti pakaian seragam rumah ane, celana pendek dan singletan, ane pun mengangkat ne telpon. Ternyata si melissa yang nelpon. Dia menanyakan dari tadi sore nelpon ane masih belum balik darimana. Ane pun menjelaskan habis ngajak shopping si billy yang pengen berubah dari bujang band malaysia jadi bujang band punk rock skaters. Kami pun terbahak-bahak dan ane menceritakan ekspresi si Billy yg menghabiskan 2 juta rupiah cuman untuk 3 kaos, 1 celana panjang dan 1 celana pendek wakakkakaka. Padahal dia niatan juga mau beli tas dan sepatu buat ke sekolah seperti si lexi da...

Lexi Terkencing-kencing

Beberapa hari setelah mendengar melisa yang sudah tiada, kami pun mencoba mengikhlaskan dan cuman mengingat melisa sebagai bagian kenangan yang indah waktu sekolah. Tampaknya bekas trauma dan sedih tentang melisa ini membuat kami benar2 enggan buat membahas dan mengingat2 kejadian maupun kenangan bersama melisa. Bahkan beberapa cew famous yg pernah membully si melisa merasa bersalah dan menemui ane buat menyampaikan permohonan maaf ke melisa (dipikirnya ane dukun apa bisa ngirim salam ke arwah). Ane bahkan sempet candain mereka uda ane sampaikan nanti melisa langsung datang sendiri ngobrol langsung dengan mereka, yang diikuti rasa horor dan kepanikan dari wajah2 cew famous ini wakakakakka. "eh besok sabtu, kita bikin tenda sendiri aja", ajak lexi "emang lu ada tenda?", tanya ane "ada keknya, tapi lupa aku taruh dimana nanti aku cek dlu", jelas lexi. "gua ada, tenang aja nj*ng, tapi tenda ku ne gede banget", ujar mister "ah bagus kalau gede, ...

PEMBERANGKATAN TERAKHIR

“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.” KERETA MALAM -PEMBERANGKATAN TERAKHIR- A THREAD Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'. Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update. Maleman kita mulai.  Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--  --Aku yakin betul kalau aku menaiki kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku berjalan kaki sepanjang rel yang entah muncul dari mana.  Senin malam, 2006. Aku hendak pulang ke Yogya karena mendapat kabar bapakku sakit. Kala itu aku masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di pinggiran Ibu Kota.  Karena dapat kabar men...

”Aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.”

 “Aku seorang penembang panggung dan aku memakai susuk. Keputusan mencabut susuk kukira hal yang mudah. Tapi sekarang, aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.” Tengah malam, di satu rumah berbilik kayu, seorang wanita bernama Taya tersentak dari tidur lalu mengerang kesakitan. Urat-urat di wajahnya membiru menonjol keluar menegang. Napasnya tercekat, membuat suaranya berhenti di tenggorokan—  “Kak!! Kakak kenapa?!” Sani, adik Taya satu-satunya panik ketika mendapati kakaknya meringis kesakitan. Ada yang tak biasa dari wajah Taya—di sekujur pipi, dagu dan kening menonjol garis-garis keras serupa jarum-jarum halus.  Sani menyadari sesuatu, buru-buru dia membekap mulut sang kakak agar tak bersuara. “Ssssssttttt” isyarat Sani pelan sambil menangis tanpa suara  Taya mengatur napas, kedua tangannya menggenggam erat sprei dan matanya mendelik ke atas menahan sakit. “KRENGG!!” Suara lonceng terdengar mendekat.  “KREENGG!!” “KREEENGGG!” Lonceng ter...