Langsung ke konten utama

40 HARI

Di kampungku setiap ada orang yang meninggal sebelum 40 hari, dia pasti datang menjemput orang lain untuk ikut mati.

Itu selalu terjadi, kali ini, tanda-tandanya ada pada ibuku, tolong...

"40 Hari"




Selama perjalanan libur lebaran, aku mendapat cerita dari narsum tentang betapa mengerikannya kampung tempat dia tinggal,
Namanya, kampung layat, sebab kampung ini amat sering mengalami kematian setelah kematian, dan kematian kedua biasanya dari para pelayat. 
Konon, dia diajak oleh almarhum untuk ikut dengannya, hal ini sudah terjadi sejak turun temurun, kepercayaan yang menjelma nyata menjadi momok yang menakutkan bagi setiap warga desa.

Bagaimana bisa? 
Nanti malaman kita mulai ya, asli ini cerita merinding abis gw nulisnya.
Sementara, RT, tandai, like atau bookmark thread ini agar tidak hilang.

yok, tinggalkan jejak,
kamu percaya orang meninggal sebelum 40 hari masih bergentayangan? 
“Telah meninggal dunia, Akung Bin Pulan, 78 Tahun, pada hari ini 12 Januari 2013, jam 23:47”

Pengeras suara (Toa) masjid mengumumkan berita kematian seorang kakek sebatang kara yang semasa hidupnya menghabiskan waktu sebagai petani singkong. 
Kabar mengenai kematian selalu menjadi momok menakutkan bagi warga Kampung Layat, pasalnya, desa ini seperti terkena kutukan empat puluh (40) hari— 
—Konon, Arwah orang yang meninggal di desa tersebut akan berkeliaran mencari kawan semati untuk dijemput. 
Terlampau malam, jenazah Mbah Akung akan di makamkan esok pagi. 
Satu desa mendadak senyap, para warga yang masih terjaga dan semula berada di pos ronda, hingga warung kopi serentak bergegas terbirit-birit pulang ke rumah mereka masing-masing. 
***

Adzan subuh berkumandang,
Bu Ani beranjak dari kasur menuju sumur halaman belakang, ia hendak mengambil wudhu. 
Rumah Bu Ani terletak di sebelah rumah Mbah Akung. Selama almarhum sakit, Bu Ani salah satu orang yang turut merawatnya, sebagai tetangga dekat yang sudah mengenal Mbah Akung sejak dia kecil, 
Bu Ani merasa iba pada kakek tua sebatang kara yang ditinggal meninggal oleh istrinya sebelum sempat memiliki anak. 
Sumur itu berada terbuka di halaman belakang rumah yang berbatasan langsung dengan tanah kebun singkong milik Mbah Akung. 
Bu Ani mencabut sumpalan bak agar mengalir air untuk dirinya wudhu, saat membasuh wajah, Bu Ani menyadari ada yang memperhatikannya dari arah kebun. 
Merasa merinding, Bu Ani mempercepat gerakan wudhunya, setelah membasuh kaki, dia berdiri tegap melempar pandang ke arah sosok tersebut, 
Berdiri sosok Mbah Akung berpakaian lusuh penuh tanah di antara pohon-pohon singkong miliknya. 
Mbah Akung menatap datar Bu Ani,

“Ya allah, si mbah, subuh-subuh sudah di kebun, mbah?” sapanya. 
“Buk, bicara sama siapa to?”

Tegur Nira, anak Bu Ani yang melihat ibunya berbicara seorang diri ke arah kebun. 
“itu loh, Mbah Ak—” Kalimatnya tersendat kala melihat sosok yang ditunjuk hilang begitu saja.

“Buk! Mbah Akung udah meninggal, tadi malam.” Jelas Nira. 
“masa? Ngawur kamu, Nir, ah!” Bu Ani menolak percaya.

“Ibuk yang ngawur, wes gantian, aku juga mau wudhu.” Balas Nira. 
Ibu Ani mematung terkesiap, kala kabar kematian Mbah Akung tersiar di toa, dirinya sudah terlelap. 
Seketika sekujur tubuhnya berdesir merinding, Ibu Ani tampak cemas, sebab, mereka yang meninggal sebelum empat puluh hari, akan menampakkan diri pada orang yang ingin mereka ajak mati. 
************

Lanjut besok ya guys, badan mulai gak enak nih. 🙏
Rehat dulu, takut ketemu mbah akung :( 
********

Suasana pagi di Kampung Layat terasa lebih sunyi dari biasanya, tak ada lalu lalang para petani membawa cangkul, pengarit rumput, gembala domba, hingga orang-orang yang silih berganti memanggul karung-karung pupuk untuk perkebunan mereka. 
Pemandangan itu berganti dengan raut cemas kerumunan orang yang melayat ke rumah duka Mbah Akung. 
Kepala desa turut hadir, dia memberikan instruksi pada pengurus paguyuban musholah untuk membereskan pemakaman Mbah Akung sebaik-baiknya, 
“Kasian, tidak ada keluarganya.” Ujar Pak Desa pada Urip, salah satu marbot yang ditugaskan untuk memandikan jenazah Mbah Akung. 
Tak ada yang berani memandikan jenazah Mbah Akung. Ketika ada kematian, selain keluarga almarhum, warga lain sejatinya menghindari berada di dekat mayit berlama-lama, 
sebab mereka khawatir benang pati mayit menyangkut ke mereka—benang pati ialah semacam ikatan batin dari almarhum kepada mereka yang masih hidup, 
benang pati tersulam dari rasa sayang, kasih, benci, amarah, bahkan dendam yang ada pada diri almarhum. 
“Nggih, Pak.” Manut Urip pada Pak Kades.

Urip, pria paruh baya, tak terlalu tinggi, berusia sekitar 40 tahunan dengan pakian koko dan kopiah putih di kepalanya penuh perasaan was-was melangkah pelan masuk ke rumah Mbah Akung. 
Urip adalah orang ke lima yang akhirnya lapang dada menerima tugas memandikan jenazah Mbah Akung dari Pak Kades, 
tak lain alasannya karena dirinya Iba dengan Mbah Akung, sosok yang dikenalnya murah hati,

Mbah akung pernah membawakan sekarung singkong hasil panen ke rumah Urip saat dia dan keluarganya sedang terhimpit ekonomi bahkan untuk makan pun berharap belas kasih orang lain. 
Rumah Mbah Akung terasa pengap dan berbau apek. Urip terkejut, cukup banyak benda-benda klenik dan berhala yang terpajang di sudut-sudut rumah ini. 
Dia juga menemukan nampan kecil berisikan bekas sesaji yang membusuk. 
Selama hidup, Mbah Akung memang dikenal sebagai dekat dengan hal-hal berbau mistik, dia seorang sepuh yang disegani sedari dulu karena dianggap memiliki kemampuan supranatural— 
---Mbah Akung, sering dimintai tolong untuk meruwat rumah, menyembuhkan santet dan sebagainya.

Tapi semua itu dia lakukan dengan ikhlas tanpa pernah meminta imbalan. 
Memasuki rumah ini, serasa menjadi lebih dekat dengan sosok yang diketahuinya paling pemberani, 
Mbah Akung di masa terakhir hidupnya bahkan menyebut kalau kutukan empat puluh hari ini dipelihara turun temurun oleh satu pihak yang memuja iblis, 
teringat satu peristiwa besar di kepala Urip pada satu tahun silam, kala kematian Ninik Tini yang menggemparkan seantero kampung layat setelah sosoknya bangkit dari tanah kubur. 
BAB 2 - NINIK TINI

Sekitar satu tahun sebelumnya, kampung Layat digemparkan kabar kematian salah seorang paling dermawan di desa yang juga merupakan Ibu dari kepala desa. 
Ninik Tini tutup usia secara mendadak saat sedang mengaji, dirinya dikenal sebagai sosok yang aktif menghidupkan berbagai kegiatan di musholah desa. 
Namun hari itu, ada yang tak biasa dari kematian Nini Tini, mayitnya membiru, Pak Kades mengatakan bahwa rumah sakit mendiagnosa Ninik Tini meninggal akibat pecah pembuluh darah. 
Namun tepat di ubun-ubun kepala Ninik Tini, terus mengalir darah kental berbau amis dari setiap lubang-lubang inderanya—hidung, 
--mulut, kedua telinga, bahkan maaf, darah juga keluar dari alat kelamin dan duburnya. 
Darah itu terus merembas sampai jasad Ninik Tini dibalut dengan kain kafan.

Tak berlama-lama menerima layatan, kepala desa dan keluarganya terburu-buru memakamkan jenazah Ninik Tini. 
Peristiwa ganjil tak berhenti sampai di situ, Jenazah Ninik Tini seperti menolak di kuburkan—di liang lahat jasadnya sulit di miringkan ke kanan. 
Beberapa kali mayit Ninik berbalik sendiri bahkan merobohkan papan-papan penyangga mayit.

“Astagfirullah, berbalik lagi Pak Ustad, berat sekali dimiringkan.” Ucap Yanto, 
Tidak masuk diakal, sudah tiga orang turun ke liang tapi masih tampak keberatan sampai sulit memiringkan jenazah Ninik Tini. 
Darah yang merembas di kain kafan kian banyak dan basah. Pak ustad pun tampak kebingungan sampai derap langkah tersaruk-saruk datang mendekat dari arah belakang, 
“Pak Kades, kamu sendiri yang memiringkan jasad ibumu. Sampaikan maaf padanya atas perbuatan yang hanya kamu sendiri yang tahu.” Ujar Mbah Akung dengan raut cemas. 
Orang-orang yang mengantar kubur terkejut namun tak mengerti dengan maksud ucapan Mbah Akung.

Dirinya yang dikenal dekat dengan mistik dan klenik cukup untuk membungkam banyak pertanyaan yang tak sempat diutarakan. 
“Saya? Kenapa?” tanya Pak Kades

“Lakukan saja, kasihan ibumu.” tegas Mbah Akung. 
Karena disaksikan oleh banyak orang, Pak Kades tak lagi mengelak, dengan ragu dia menuruti Mbah Akung turun ke liang lahat. 
Tampak pak kades mendekat ke telinga jenazah Ninik untuk menyampaikan sesuatu yang tak dapat didengar, kemudian, pelan dia membaringkan jenazah sang ibu. 
Benar saja, jasad Ninik Tini bisa dibaringkan dengan mudah dibanding oleh tiga orang sebelumnya. 
“Alhamdulillah” spontan para warga mengucap bersamaan meruntuhkan cemas.

“Ayo, cepat kuburkan.” Pinta Mbah Akung. 
Pak Kades keluar dari liang lahat, rahangnya mengeras, di tengah keramaian Pak Kades menoleh ke arah Mbah Akung yang sudah berjalan menjauh. 
Tak sengaja, langkah Mbah Akung menabrak Urip yang sedang berjalan ke arah makam.

“Astagfirullah, jangan melamun Mbah, mau kuantar?” tawar Urip. 
Pandangan Mbah Akung tampak kosong menerawang ke satu tempat yang hanya dirinya sendiri yang tahu.

“Rip, celaka kita rip, Desa ini celaka.” 
Tubuh Mbah Akung melemas dan roboh ke tanah namun ditahan oleh Urip. Dirinya kala itu belum mengerti arti dari ucapan Mbah Akung. 
Tiga hari sepeninggal Ninik Tini, warga desa kampung layat masih mayoritas menahan diri untuk tidak keluar rumah. 
Pasalnya, sekali pun orang shalih yang meninggal, kutukan empat puluh hari itu tidak pandang bulu, apalagi pemakaman Ninik Tini yang terbilang janggal. 
Tengah malam, sekitar pukul 01.00 dini hari, suara kresek toa masjid berbunyi, tak lama, terdengar kumandang shalawat dari suara tak asing didengar oleh warga kampung layat.

“Astagfirullah, Ninik Tini?” 
Urip terbangun dari tidur mengenali suara kumandang shalawat yang dia dengar. Sontak dia membangunkan Janah, istrinya. 
Janah ketakutan memeluk Urip, dia yang sepengajian dengan Ninik Tini amat mengenali suara tersebut.

“Astagfirullah, Mas.” 
Suara shalawat itu kian lama tak lagi terdengar fasih, tapi hanya nadanya saja dengan gumam senandung mengayun. 
Rasanya tak hanya urip dan janah yang gemetar ketakutan di dalam rumah mereka, warga kampung layat seperti dibangunkan serentak oleh suara tersebut, namun tidak ada satu pun dari warga yang berani memeriksa langsung. 
Esok paginya, tersiar kabar tak kalah mengejutkan, ketika penjaga TPU melapor ke desa bahwa kuburan Ninik Tini terbongkar berantakan dan Jasadnya hilang. 
Menjalar cepat dari mulut ke mulut berita bahwa Ninik Tini bangkit dari kubur. 
Warga desa ketakutan, kala magrib sudah tidak ada yang berani keluar rumah. 
Keluarga kepala desa tampak panik. Mereka mengendus ada pencurian jasad di kampung layat terhadap jenazah Ninik Tini, 
Namun ini pertama kalinya terjadi di desa ini, apakah mungkin ada seseorang yang mencuri mayit? 
Para warga lebih mempercayai Ninik Tini bangkit dari kubur dibanding kabar penggondolan mayit tersebut. 
Kepala desa yang tampak terpukul menggagas sebuah pengajian yang dipimpin oleh Ust. Yusuf, satu desa dihimbau untuk hadir sekaligus dalam rangka memohon keselamatan pada tuhan dan meruwat desa dari bala malapetaka. 
Hampir seluruh warga desa hadir dengan membawa sedikitnya hasil panen mereka untuk dijadikan persembahan tolak bala yang nantinya akan disumbangkan ke desa-desa sekitar. 
Meski dikenal sebagai desa terkutuk, namun Kampung Layat menjadi desa paling subur dan makmur dibanding desa-desa lainnya. 
Para warganya sejahtera meski selalu dirundung ketakutan dan dekat dengan gagasan kematian. 
Semula acara pengajian dan ruwatan tersebut berlangsung khusyuk sampai satu jamaah perempuan tampak pucat-- 
—dirinya melihat sosok Ninik Tini mengenakan mukena dengan wajah hitam seperti gosong duduk bersila menyeringai didekat mimbar (tempat imam) yang memang kosong. 
Ninik Tini duduk menatap jamaah perempuan itu satu beris di belakang lingkaran para warga. 
Gerakan tubuhnya mengikuti jamaah lainnya mengucap kalimah dzikir dengan menggerakan kepala ke kiri dan kanan yang mana kian lama semakin cepat. 
--BERSAMBUNG--





Postingan populer dari blog ini

Privacy Policy

  Narastudio built the app as a Free app. This SERVICE is provided by Narastudio at no cost and is intended for use as is. This page is used to inform visitors regarding our policies with the collection, use, and disclosure of Personal Information if anyone decided to use our Service. If you choose to use our Service, then you agree to the collection and use of information in relation to this policy. The Personal Information that we collect is used for providing and improving the Service. We will not use or share your information with anyone except as described in this Privacy Policy. Information Collection and Use For a better experience, while using our Service, I may require you to provide us with certain personally identifiable information. The information that I request will be retained on your device and is not collected by me in any way. The app does use third party services that may collect information used to identify you. Link to privacy policy of third party service prov...

Misteri Suara Tanpa Wujud

Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga. Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil. Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam. Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu. Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudn...

Pengalaman Bertemu Hantu/Jin (Chapter Jogjakarta)

Selamat datang di Jogja, Kami (makhluk ghoib) bukan hanya gossip Sahabat-sahabat ane yg pernah ane sebutin di chapter Palembang, semua berdiskusi mengenai pilihan universitas sebagai pijakan lanjutan pendidikan yg lebih tinggi. rata-rata sahabat ane memilih melanjutkan ke Universitas yg ada di Sumsel pula. Sedang ane, sepakat dengan si babay untuk melanjutkan ke Jogjakarta di Universitas yg terkenal dengan jaket warna tanahnya itu. Untuk memuluskan persiapan kami supaya dapat lulus, si babay menyarankan untuk ambil lembaga kursus intensif untuk persiapan SPMB. Neu**n yg berada di nyutran menjadi pilihan kami berdua dan setelah melaporkan biaya ke emak ane. Alhamdulilah emak ane setuju dan ane pun terdaftar di kursus ini. Rupa2nya emak si babay daftarin dia bukan di kursus sini, malah di pesaingnya. ini pegimane cerite, yg nyaranin malah ke tempat laen wakakkakakkaa. dengan penuh rasa tidak enak dan kekecewaan dengan emaknya, si babay berulang kali meminta maaf ane gansis.  Ya sudah...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4) Sekitar jam 8an malam ane akhrinya sampai di rumah. Emak ane ternyata lagi nonton tivi barenga adik2 ane. Sembari melepas baju di dalam kamar ane, telpon rumah pun berdering. Kebetulan karena memang di renovasi rumah ane, dari ruang tamu jadi kamar ane, ne telpon diinapkan di kamar ane. Mungkin disengaja apa kagak, tapi memang ne telpon rata2 berbunyi nyariin ane. Setelah berganti pakaian seragam rumah ane, celana pendek dan singletan, ane pun mengangkat ne telpon. Ternyata si melissa yang nelpon. Dia menanyakan dari tadi sore nelpon ane masih belum balik darimana. Ane pun menjelaskan habis ngajak shopping si billy yang pengen berubah dari bujang band malaysia jadi bujang band punk rock skaters. Kami pun terbahak-bahak dan ane menceritakan ekspresi si Billy yg menghabiskan 2 juta rupiah cuman untuk 3 kaos, 1 celana panjang dan 1 celana pendek wakakkakaka. Padahal dia niatan juga mau beli tas dan sepatu buat ke sekolah seperti si lexi da...

Lexi Terkencing-kencing

Beberapa hari setelah mendengar melisa yang sudah tiada, kami pun mencoba mengikhlaskan dan cuman mengingat melisa sebagai bagian kenangan yang indah waktu sekolah. Tampaknya bekas trauma dan sedih tentang melisa ini membuat kami benar2 enggan buat membahas dan mengingat2 kejadian maupun kenangan bersama melisa. Bahkan beberapa cew famous yg pernah membully si melisa merasa bersalah dan menemui ane buat menyampaikan permohonan maaf ke melisa (dipikirnya ane dukun apa bisa ngirim salam ke arwah). Ane bahkan sempet candain mereka uda ane sampaikan nanti melisa langsung datang sendiri ngobrol langsung dengan mereka, yang diikuti rasa horor dan kepanikan dari wajah2 cew famous ini wakakakakka. "eh besok sabtu, kita bikin tenda sendiri aja", ajak lexi "emang lu ada tenda?", tanya ane "ada keknya, tapi lupa aku taruh dimana nanti aku cek dlu", jelas lexi. "gua ada, tenang aja nj*ng, tapi tenda ku ne gede banget", ujar mister "ah bagus kalau gede, ...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6) Sebelum ane mulai lanjut ke part 6, ini semua bener2 terjadi sesuai yg ane alamin dan saksikan dengan beberapa teman tanpa bermaksud meremehkan agama tertentu. Cerita pengalaman ane ini cuman buat perenungan viewer aja, terutama bagi ane sendiri saat itu yg bener2 ga percaya bahwa jiwa yg dikorbankan untuk Iblis itu sebagai persembahan memang ada. Jangankan di pedesaan, di kota seperti kota batam saat itu aja terjadi. Wallahualam gansis. Oke mari kita mulai. Setelah mendapatkan goreng2an bonus dari sisa2 penjualan kantin, ane pun dengan beringas mengkonsumsinya. Maklum, sudah masuk jam makan siang, apalagi abis ngangkut si melisa yg berbobot seperti beras sekarung 50kg. Disela-sela kami menunggu bel yg akan menandakan berakhirnya jam pelajaran hari itu, ane pun menyarankan si melisa buat sms sopirnya buat jemput sekarang. Si melisa pun menuruti saran ane, segera dia mengambil hape dari sakunya dan mengetik sms. "eh nanti keluar UKSnya ...

PEMBERANGKATAN TERAKHIR

“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.” KERETA MALAM -PEMBERANGKATAN TERAKHIR- A THREAD Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'. Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update. Maleman kita mulai.  Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--  --Aku yakin betul kalau aku menaiki kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku berjalan kaki sepanjang rel yang entah muncul dari mana.  Senin malam, 2006. Aku hendak pulang ke Yogya karena mendapat kabar bapakku sakit. Kala itu aku masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di pinggiran Ibu Kota.  Karena dapat kabar men...

”Aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.”

 “Aku seorang penembang panggung dan aku memakai susuk. Keputusan mencabut susuk kukira hal yang mudah. Tapi sekarang, aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.” Tengah malam, di satu rumah berbilik kayu, seorang wanita bernama Taya tersentak dari tidur lalu mengerang kesakitan. Urat-urat di wajahnya membiru menonjol keluar menegang. Napasnya tercekat, membuat suaranya berhenti di tenggorokan—  “Kak!! Kakak kenapa?!” Sani, adik Taya satu-satunya panik ketika mendapati kakaknya meringis kesakitan. Ada yang tak biasa dari wajah Taya—di sekujur pipi, dagu dan kening menonjol garis-garis keras serupa jarum-jarum halus.  Sani menyadari sesuatu, buru-buru dia membekap mulut sang kakak agar tak bersuara. “Ssssssttttt” isyarat Sani pelan sambil menangis tanpa suara  Taya mengatur napas, kedua tangannya menggenggam erat sprei dan matanya mendelik ke atas menahan sakit. “KRENGG!!” Suara lonceng terdengar mendekat.  “KREENGG!!” “KREEENGGG!” Lonceng ter...