Langsung ke konten utama

“PARA PENUNGGU SEKOLAHAN“ (Bagian 1)

 

“Mas Rebo menengadahkan kepalanya ke atas batang pohon jambu air. Terlihat wujud sosok seorang perempuan sedang berdiri. Sosok itu mengenakan pakaian seperti gaun putih, kakinya

tidak nampak, rambutnya yang panjang sebahu terlihat berantakan…....” 

(Disclamer: Ini adalah beberapa cerita mistis yang pernah terjadi di sebuah Sekolah Dasar

Negeri “X” (SDN X) yang terletak di kota Bekasi. Nama-nama karakter adalah bukan nama

sebenarnya) 

Beberapa saat setelah lonceng bubar sekolah berbunyi siang hari itu di SDN X terlihat para

siswa dan siswi banyak bergerombol di halaman. 

Bukan sedang melaksanakan upacara bukan

pula sedang berlangsung perlombaan melainkan mereka menyaksikan para tukang yang akan

menebang pohon mahoni yang sudah ada semenjak SDN X pertama kali didirikan.

Pohon itu berukuran cukup besar. 

Adapun alasan menebang pohon itu adalah pihak sekolah

akan memasang lantai ubin pada seluruh halaman sekolah dikarenakan selama ini permukaan halamannya adalah tanah yang becek sehabis hujan dan berdebu apabila musim kemarau. 

Para tukang menghalau anak-anak agar tidak berkerumun terlalu dekat dengan perkiraan arah

tumbangnya pohon apabila ditebang. 

Beberapa guru juga turut menghalau para siswa agar

berdiri menjauh dari para tukang yang sedang menebang pohon. Dasar anak-anak SD, hal seperti itu saja menjadi tontonan. 

Agung, Surya, Adi, Danang, Ari, dan Daru, mereka semua para siswa kelas 5 ada diantara anak-

anak lainnya. Mereka mundur menjauh beberapa langkah atas perintah pak guru. 

Tukang

yang bertugas menggergaji memberi kode kepada tiga orang tukang lainnya bahwa batang

pohon sudah hampir sepenuhnya pisah hanya disisakan sebagian kecil sehingga tinggal ditarik menggunakan tambang agar pohon tumbang. 

Kemudian keempat tukang tersebut menarik pohon. “Awas semuanya.. mundur!!” seru salah

seorang tukang. “Krekek…krekekk…” suara batang pohon yang hendak lepas dari batang

utamanya. 

Para tukang menarik agar pohon tumbang ke arah kanan agar tidak menghujam pagar sekolah dan agar jauh dari kerumunan orang-orang atau anak-anak sekolah yang ada di

situ. Tidak dinyana Danang berjalan perlahan maju menghampiri pohon yang bergerak tumbang. 

“Danaaang!!! Awaass!!” semua yang di situ meneriaki Danang. Danang seolah tuli, selanjutnya

dia hanya diam tertegun menatap ke arah pohon. 

Adi berlari dengan gesit ke arah Danang, ia lalu menarik dari belakang melalui celah kedua

ketiak Danang. Semua menyaksikan detik-detik menegangkan itu dengan terkesima. Pohon itu

tidak tumbang ke arah yang dikehendaki para tukang melainkan ke kedua bocah SD itu. 

Saat pohon menghujam tanah semua berteriak histeris. Di luar dugaan Adi dan Danang tidak tertimpa pohon, namun Danang meringis menahan sakit. Ternyata pergelangan kaki kanannya terhantam salah satu cabang dahan besar pohon. 

Darah mengucur dengan deras, pergelangan

kaki Danang nyaris putus.

Pak Guru mata pelajaran Olah Raga berlari ke arah Adi dan Danang. Lalu dengan dibantu dua orang tukang menggotong Danang ke ruang UKS. 

Lalu teman-teman Adi berhamburan menghampirinya. “Kalo ga lo tarik si Danang kayanya mati

ketiban pohon,” demikian komentar yang paling diutarakan. 

Ada juga komentar lainnya, “Lo liat

ga tadi? pohonnya kaya yang belok jatohnya. Bukan ke arah tambang yang ditarik tukang

malah ke Danang.” Yang lain mengiyakan. 

Syukurlah setelah menjalani pengobatan dan perawatan yang memakan waktu lama

pergelangan kaki Danang dapat diselamatkan. Meskipun Danang tidak lagi dapat berjalan

dengan normal. Saat pertama kali datang ke sekolah ia berjalan dibantu dengan tongkat penyangga. 

Hingga akhirnya ia dapat berjalan tanpa tongkat namun tetap saja jalannya

pincang.

Kabar kisah Danang kemudian merebak. Mengapa ketika pohon akan tumbang ia malah

berjalan menghampiri. Danang menceritakan apa yang dialaminya. 

Ketika itu suasana sekitar

menjadi remang seperti waktu magrib, suara yang begitu riuh menjadi hening. Lalu Danang

melihat ada 2 sosok yakni kakek-kakek dan nenek-nenek memanggil-manggilnya, “Sini nak, sini

nak.” 

Danang menghampiri panggilan mereka, maka terjadilah kejadian naas itu.

Mas Rebo penjaga juga pesuruh sekolah akhirnya bersuara, ia membenarkan kabar sosok

yang dilihat Danang. 

Katanya hampir setiap lewat tengah malam ia kerap mendengar seperti

ada orang yang menyapu lantai selasar teras kelas. 

Awalnya dia abaikan karena dia pikir hanya perasaannya saja karena setengah sadar dalam keadaan terbangun di tengah tidurnya. Lama kelamaan dia penasaran untuk memastikan apakah pendengarannya salah atau tidak. 

Lalu dia keluar dari kamarnya. Di antara keremangan malam disaksikannya 2 sosok yakni kakek-kakek dan nenek-nenek. Mas Rebo menyimpulkan mereka adalah sosok kakek-kakek

dan nenek-nenek karena tubuh keduanya bungkuk dan kulit wajah mereka terllihat keriput

sekali. 

Namun mas Rebo tidak dapat melupakan tatap mata merah menyala keduanya.


#


Bicara kejadian mistis di SD itu mas Rebo sebagai penjaga sekolah mengalami kejadian

lainnya. Dia memang sehari-hari juga tinggal di lingkungan sekolah. Pihak sekolah menyediakan 1 kamar untuk dia tinggali. Letak kamarnya dekat dengan toilet khusus guru. 

Selain pertemuannya dengan sosok sepasang kakek-nenek penyapu teras selasar kelas, pada malam-malam tertentu dia mendengar seperti ada yang mandi di toilet khusus guru itu yang memang bersebelahan persis dengan kamarnya. 

Terdengar jelas suara guyuran air dari gayung dari seseorang yang sedang mandi, sambil bersenandung. Dari suaranya siapapun yang sedang mandi itu adalah perempuan. 

Sama

halnya ketika dia pertama mendengar ada yang sedang menyapu, lama kelamaan mas Rebo

keluar dari kamarnya untuk memeriksa siapakah gerangan yang menggunakan toilet di tengah malam buta.

Mas Rebo mengetuk-ngetuk pintu toilet, “siapa ya?” katanya. 

Sebenarnya saat mas Rebo

keluar dari kamarnya pun suara aktivitas dalam kamar mandi seketika berhenti, tidak terdengar

lagi suara guyuran air dari gayung dan senandung, senyap sama sekali. Ternyata pintu tidak dikunci, karena memang tidak ada siapapun yang menggunakan toilet. 

Lalu

mas Rebo menyalakan lampu toilet supaya dapat melihat jelas kondisinya. Lantai toilet kering, gayung tetap bergantung di tempatnya dan air di dalam bak tetap dalam kondisi penuh. 

Setelah yakin tidak ada siapapun di toilet dia bermaksud hendak kembali ke kamarnya. Baru

saja ia memegang daun pintu kamarnya dia mendengar lagi nyanyi senandung. Namun kali ini

suaranya bukan dari toilet melainkan dari belakang ruang kamarnya. 

Di belakang ruang kamar mas Rebo yang mana juga belakang SDN X merupakan kebun kecil.

Ada pohon jambu air berukuran sedang di belakang ruang kamar mas Rebo. Jika sedang

berbuah jambu-jambu di pohon itu menjadi sasaran para murid. 

Namun yang paling sering

menimati jambu-jambu tersebut adalah tentu saja ibu-ibu guru. Mereka sering membuat rujak

darinya.

Mendengar suara senandung berasal dari kebun belakang mas Rebo mengurungkan masuk ke

kamar. Dia pikir hendak sekalian saja memeriksanya. 

Dia pun berjalan menuju ke kebun. Suasana kebun temaram karena memang minim cahaya. Lalu dia menyapu pandangannya ke

sekitar kebun. Dia tidak melihat siapapun, tapi suara senandung itu tetap terdengar. 

Suara senandung itu terdengar sayup-sayup, seolah jauh tapi terdengar dekat, dekat tapi terdengar jauh. Sejauh matanya mampu memandang dia hanya menangkap bayang siluet

pohon singkong dan pohon jagung, namun dia tidak melihat seorangpun. 

Tinggal ke satu titik

yang ia belum toleh, yaitu ke atas pohon jambu air yang tidak jauh dari posisinya berdiri.

Mas Rebo menengadahkan kepalanya ke atas batang pohon jambu air. Terlihat wujud sosok seorang perempuan sedang berdiri. 

Sosok itu mengenakan pakaian seperti gaun putih, kakinya

tidak nampak, rambutnya yang panjang sebahu terlihat berantakan, Mas Rebo tidak dapat

melihat matanya namun dari arah wajahnya yang terlihat putih pucat dia tahu bahwa sosok itu

sedang memperhatikannya. 

Melihat sosok yang dia yakini adalah kuntilanak mas Rebo menundukan wajahnya berucap

istigfar, lalu menarik nafas sambil memejamkan matanya. 

Seperti mengumpulkan nyali, setelah

terkumpul kembali ia menoleh lagi ke atas batang pohon, sosok itu sudah lenyap hilang dari pandangannya.


- B E R S A M B U N G - 

Postingan populer dari blog ini

Privacy Policy

  Narastudio built the app as a Free app. This SERVICE is provided by Narastudio at no cost and is intended for use as is. This page is used to inform visitors regarding our policies with the collection, use, and disclosure of Personal Information if anyone decided to use our Service. If you choose to use our Service, then you agree to the collection and use of information in relation to this policy. The Personal Information that we collect is used for providing and improving the Service. We will not use or share your information with anyone except as described in this Privacy Policy. Information Collection and Use For a better experience, while using our Service, I may require you to provide us with certain personally identifiable information. The information that I request will be retained on your device and is not collected by me in any way. The app does use third party services that may collect information used to identify you. Link to privacy policy of third party service prov...

Misteri Suara Tanpa Wujud

Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga. Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil. Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam. Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu. Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudn...

Pengalaman Bertemu Hantu/Jin (Chapter Jogjakarta)

Selamat datang di Jogja, Kami (makhluk ghoib) bukan hanya gossip Sahabat-sahabat ane yg pernah ane sebutin di chapter Palembang, semua berdiskusi mengenai pilihan universitas sebagai pijakan lanjutan pendidikan yg lebih tinggi. rata-rata sahabat ane memilih melanjutkan ke Universitas yg ada di Sumsel pula. Sedang ane, sepakat dengan si babay untuk melanjutkan ke Jogjakarta di Universitas yg terkenal dengan jaket warna tanahnya itu. Untuk memuluskan persiapan kami supaya dapat lulus, si babay menyarankan untuk ambil lembaga kursus intensif untuk persiapan SPMB. Neu**n yg berada di nyutran menjadi pilihan kami berdua dan setelah melaporkan biaya ke emak ane. Alhamdulilah emak ane setuju dan ane pun terdaftar di kursus ini. Rupa2nya emak si babay daftarin dia bukan di kursus sini, malah di pesaingnya. ini pegimane cerite, yg nyaranin malah ke tempat laen wakakkakakkaa. dengan penuh rasa tidak enak dan kekecewaan dengan emaknya, si babay berulang kali meminta maaf ane gansis.  Ya sudah...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4) Sekitar jam 8an malam ane akhrinya sampai di rumah. Emak ane ternyata lagi nonton tivi barenga adik2 ane. Sembari melepas baju di dalam kamar ane, telpon rumah pun berdering. Kebetulan karena memang di renovasi rumah ane, dari ruang tamu jadi kamar ane, ne telpon diinapkan di kamar ane. Mungkin disengaja apa kagak, tapi memang ne telpon rata2 berbunyi nyariin ane. Setelah berganti pakaian seragam rumah ane, celana pendek dan singletan, ane pun mengangkat ne telpon. Ternyata si melissa yang nelpon. Dia menanyakan dari tadi sore nelpon ane masih belum balik darimana. Ane pun menjelaskan habis ngajak shopping si billy yang pengen berubah dari bujang band malaysia jadi bujang band punk rock skaters. Kami pun terbahak-bahak dan ane menceritakan ekspresi si Billy yg menghabiskan 2 juta rupiah cuman untuk 3 kaos, 1 celana panjang dan 1 celana pendek wakakkakaka. Padahal dia niatan juga mau beli tas dan sepatu buat ke sekolah seperti si lexi da...

Lexi Terkencing-kencing

Beberapa hari setelah mendengar melisa yang sudah tiada, kami pun mencoba mengikhlaskan dan cuman mengingat melisa sebagai bagian kenangan yang indah waktu sekolah. Tampaknya bekas trauma dan sedih tentang melisa ini membuat kami benar2 enggan buat membahas dan mengingat2 kejadian maupun kenangan bersama melisa. Bahkan beberapa cew famous yg pernah membully si melisa merasa bersalah dan menemui ane buat menyampaikan permohonan maaf ke melisa (dipikirnya ane dukun apa bisa ngirim salam ke arwah). Ane bahkan sempet candain mereka uda ane sampaikan nanti melisa langsung datang sendiri ngobrol langsung dengan mereka, yang diikuti rasa horor dan kepanikan dari wajah2 cew famous ini wakakakakka. "eh besok sabtu, kita bikin tenda sendiri aja", ajak lexi "emang lu ada tenda?", tanya ane "ada keknya, tapi lupa aku taruh dimana nanti aku cek dlu", jelas lexi. "gua ada, tenang aja nj*ng, tapi tenda ku ne gede banget", ujar mister "ah bagus kalau gede, ...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6) Sebelum ane mulai lanjut ke part 6, ini semua bener2 terjadi sesuai yg ane alamin dan saksikan dengan beberapa teman tanpa bermaksud meremehkan agama tertentu. Cerita pengalaman ane ini cuman buat perenungan viewer aja, terutama bagi ane sendiri saat itu yg bener2 ga percaya bahwa jiwa yg dikorbankan untuk Iblis itu sebagai persembahan memang ada. Jangankan di pedesaan, di kota seperti kota batam saat itu aja terjadi. Wallahualam gansis. Oke mari kita mulai. Setelah mendapatkan goreng2an bonus dari sisa2 penjualan kantin, ane pun dengan beringas mengkonsumsinya. Maklum, sudah masuk jam makan siang, apalagi abis ngangkut si melisa yg berbobot seperti beras sekarung 50kg. Disela-sela kami menunggu bel yg akan menandakan berakhirnya jam pelajaran hari itu, ane pun menyarankan si melisa buat sms sopirnya buat jemput sekarang. Si melisa pun menuruti saran ane, segera dia mengambil hape dari sakunya dan mengetik sms. "eh nanti keluar UKSnya ...

PEMBERANGKATAN TERAKHIR

“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.” KERETA MALAM -PEMBERANGKATAN TERAKHIR- A THREAD Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'. Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update. Maleman kita mulai.  Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--  --Aku yakin betul kalau aku menaiki kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku berjalan kaki sepanjang rel yang entah muncul dari mana.  Senin malam, 2006. Aku hendak pulang ke Yogya karena mendapat kabar bapakku sakit. Kala itu aku masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di pinggiran Ibu Kota.  Karena dapat kabar men...

”Aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.”

 “Aku seorang penembang panggung dan aku memakai susuk. Keputusan mencabut susuk kukira hal yang mudah. Tapi sekarang, aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.” Tengah malam, di satu rumah berbilik kayu, seorang wanita bernama Taya tersentak dari tidur lalu mengerang kesakitan. Urat-urat di wajahnya membiru menonjol keluar menegang. Napasnya tercekat, membuat suaranya berhenti di tenggorokan—  “Kak!! Kakak kenapa?!” Sani, adik Taya satu-satunya panik ketika mendapati kakaknya meringis kesakitan. Ada yang tak biasa dari wajah Taya—di sekujur pipi, dagu dan kening menonjol garis-garis keras serupa jarum-jarum halus.  Sani menyadari sesuatu, buru-buru dia membekap mulut sang kakak agar tak bersuara. “Ssssssttttt” isyarat Sani pelan sambil menangis tanpa suara  Taya mengatur napas, kedua tangannya menggenggam erat sprei dan matanya mendelik ke atas menahan sakit. “KRENGG!!” Suara lonceng terdengar mendekat.  “KREENGG!!” “KREEENGGG!” Lonceng ter...