Langsung ke konten utama

Ervina #2 -NENEK BERAMBUT PANJANG-

 NENEK BERAMBUT PANJANG


Setelah Vina sadar, dokter kembali melakukan pemeriksaan dan lagi" hasilnya nihil. Pengobatan pun hanya sekedar pemulihan kondisi vina yang lemas berupa infus dan suntik antibiotik yang entah untuk apa dan tak pernah ada penjelasan tentang apa penyakitnya. Hanya saat ditanya antibiotik diberikan untuk pencegahan kemungkinan terjadinya infeksi.


Setelah sadar, vina benar" tidak tampak seperti orang sakit. Bahkan napsu makannya tidak berkurang sedikitpun, dia selalu makan dengan lahap. Sampai keluarga pasien yang lain heran.

"wah vina makannya mah enak banget ya gak susah. Anak saya mah susah banget makannya, soalnya apa-apa rasanya pahit dimulutnya"

Mama hanya tersenyum karena memang vina aslinya gak sakit apa-apa.


Suatu hari iseng-iseng mama bertanya pada vina apa ia ingat apa yang terjadi padanya saat malam kejadian dia kejang" waktu itu. Vina bilang dia ingat dengan jelas.


"Kan waktu itu vina tidur trus vina bangun, pas bangun ada mak we' (almh. Ibu mama) di pintu. Trus mak we' manggil vina pake tangannya kaya ngajakin pergi gitu. Vina gak mau, eh mak we' nya berubah jadi nenek-nenek rambutnya panjaaannnggg banget nutupin mukanya. Vina ditarik tarik ma."

Aku yang semakin penasaran tanpa sadar ikut duduk di ranjang vina." Terus terus gimana dek? " tanyaku tak sabar

" Trus kan vina ditarik tuh dibawa gak tau kemana jauh pokoknya. Pas sampe kaya di kerajaan gitu ma, ada rajanya. Nah nenek-nenek itu bawa vina ke depan rajanya, vina mau dikasih ke rajanya. Vina takut ma, vina nangis di sana teriak-teriak gak mau gak mau gitu. Vina gak mau trus lari tapi dikejar." sekarang suara vina ikut bergetar seperti menahan rasa takut dan tangis yang masih dirasakannya. Namun dia tak berhenti bercerita,

" Eh pas vina lagi dikejar tau-tau babeh dateng kaya naik kuda gitu, vina ditarik trus dibawa pergi sama babeh. Trus tau-tau vina bangun liat mama sama bapak sma mba Nana juga."

"Vina takut ma.. Takut dibawa lagi.." kini air matanya nyaris tumpah mengingat kembali kejadian tak masuk akal yang menimpanya. Mama segera memeluk Vina untuk menenangkannya.


Karena saudara dari pihak bapak memang banyak, begitu pula teman" bapak ditambah lagi bapak juga memegang jabatan di yayasan keagamaan membuat kamar rawat inap yang ditempati vina selalu ramai oleh orang" yang membesuk. Karena vina dirawat di kelas III, para keluarga pasien yang ikut dirawat disana sampai heran dengan banyaknya orang yang datang membesuk setiap harinya. Ditambah lagi tetangga di sekitar rumah lama kami dan juga tetangga di tempat tinggal kami sekarang tak ketinggalan ikut ramai membesuk. Jadi cukup kewalahan juga kami dengan puluhan pembesuk setiap harinya.


Seperti hari itu saat teman" pengajian bapak datang membesuk sekitar jam 8 malam, bapak sibuk menemai temannya di balkon ruang rawat (ranjang vina tepat di dekat pintu ke arah balkon) sementara saya dan mama sedang menemani vina setelah selesai mengaji di sampingnya. Tiba" saja vina menangis histeris sambil menutup wajahnya. Bapak yang sedang ngobrol kaget mendengar vina menangis begitupun para tamu yang datang membesuk. Bapak segera menghampiri vina.

"Kenapa nak?" tanya bapak sambil mengelus kepalanya.

"Huhu.. Itu pak.. Nenek-neneknya dateng lagi" vina masih terus menangis sambil menutupi wajahnya.

"Di mana nenek-neneknya?" tanya bapak lagi.

"itu di luar pak, di pintu"

"Vina istighfar ya, baca surat-surat pendeknya juga, sama ayat kursinya" ucap bapak.

Mama dan saya langsung melanjutkan lagi membaca Qur'an di samping Vina sampai dia terlelap tidur.


Setelah beberapa hari kemudian akhirnya Vina diperbolehkan pulang (saat itu saya sudah kembali jaga toko dengan hasan di tempat saudara saya)


Hari-hari pun berlalu dengan tenang dan vina juga sudah kembali ke sekolah setelah absen hampir sebulan lamanya. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Saat vina pingsan di sekolah dan di antar pulang oleh teman-temannya. Setelah di tanya Vina kembali melihat sosok nenek itu sedang berdiri di luar kelasnya. Setelah itu tak terhitung berapa kali Vina pulang dari sekolah karena menangis histeris atau pingsan yang disebabkan oleh gangguan yang dilihatnya.


Bapak pun kembali menemui Babeh. Dan benar saja, menurut penjelasan Babeh makhluk itu belum merelakan kegagalannya dan masih ingin terus membawa Vina.

Postingan populer dari blog ini

Privacy Policy

  Narastudio built the app as a Free app. This SERVICE is provided by Narastudio at no cost and is intended for use as is. This page is used to inform visitors regarding our policies with the collection, use, and disclosure of Personal Information if anyone decided to use our Service. If you choose to use our Service, then you agree to the collection and use of information in relation to this policy. The Personal Information that we collect is used for providing and improving the Service. We will not use or share your information with anyone except as described in this Privacy Policy. Information Collection and Use For a better experience, while using our Service, I may require you to provide us with certain personally identifiable information. The information that I request will be retained on your device and is not collected by me in any way. The app does use third party services that may collect information used to identify you. Link to privacy policy of third party service prov...

Misteri Suara Tanpa Wujud

Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga. Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil. Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam. Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu. Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudn...

Pengalaman Bertemu Hantu/Jin (Chapter Jogjakarta)

Selamat datang di Jogja, Kami (makhluk ghoib) bukan hanya gossip Sahabat-sahabat ane yg pernah ane sebutin di chapter Palembang, semua berdiskusi mengenai pilihan universitas sebagai pijakan lanjutan pendidikan yg lebih tinggi. rata-rata sahabat ane memilih melanjutkan ke Universitas yg ada di Sumsel pula. Sedang ane, sepakat dengan si babay untuk melanjutkan ke Jogjakarta di Universitas yg terkenal dengan jaket warna tanahnya itu. Untuk memuluskan persiapan kami supaya dapat lulus, si babay menyarankan untuk ambil lembaga kursus intensif untuk persiapan SPMB. Neu**n yg berada di nyutran menjadi pilihan kami berdua dan setelah melaporkan biaya ke emak ane. Alhamdulilah emak ane setuju dan ane pun terdaftar di kursus ini. Rupa2nya emak si babay daftarin dia bukan di kursus sini, malah di pesaingnya. ini pegimane cerite, yg nyaranin malah ke tempat laen wakakkakakkaa. dengan penuh rasa tidak enak dan kekecewaan dengan emaknya, si babay berulang kali meminta maaf ane gansis.  Ya sudah...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4) Sekitar jam 8an malam ane akhrinya sampai di rumah. Emak ane ternyata lagi nonton tivi barenga adik2 ane. Sembari melepas baju di dalam kamar ane, telpon rumah pun berdering. Kebetulan karena memang di renovasi rumah ane, dari ruang tamu jadi kamar ane, ne telpon diinapkan di kamar ane. Mungkin disengaja apa kagak, tapi memang ne telpon rata2 berbunyi nyariin ane. Setelah berganti pakaian seragam rumah ane, celana pendek dan singletan, ane pun mengangkat ne telpon. Ternyata si melissa yang nelpon. Dia menanyakan dari tadi sore nelpon ane masih belum balik darimana. Ane pun menjelaskan habis ngajak shopping si billy yang pengen berubah dari bujang band malaysia jadi bujang band punk rock skaters. Kami pun terbahak-bahak dan ane menceritakan ekspresi si Billy yg menghabiskan 2 juta rupiah cuman untuk 3 kaos, 1 celana panjang dan 1 celana pendek wakakkakaka. Padahal dia niatan juga mau beli tas dan sepatu buat ke sekolah seperti si lexi da...

Lexi Terkencing-kencing

Beberapa hari setelah mendengar melisa yang sudah tiada, kami pun mencoba mengikhlaskan dan cuman mengingat melisa sebagai bagian kenangan yang indah waktu sekolah. Tampaknya bekas trauma dan sedih tentang melisa ini membuat kami benar2 enggan buat membahas dan mengingat2 kejadian maupun kenangan bersama melisa. Bahkan beberapa cew famous yg pernah membully si melisa merasa bersalah dan menemui ane buat menyampaikan permohonan maaf ke melisa (dipikirnya ane dukun apa bisa ngirim salam ke arwah). Ane bahkan sempet candain mereka uda ane sampaikan nanti melisa langsung datang sendiri ngobrol langsung dengan mereka, yang diikuti rasa horor dan kepanikan dari wajah2 cew famous ini wakakakakka. "eh besok sabtu, kita bikin tenda sendiri aja", ajak lexi "emang lu ada tenda?", tanya ane "ada keknya, tapi lupa aku taruh dimana nanti aku cek dlu", jelas lexi. "gua ada, tenang aja nj*ng, tapi tenda ku ne gede banget", ujar mister "ah bagus kalau gede, ...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6) Sebelum ane mulai lanjut ke part 6, ini semua bener2 terjadi sesuai yg ane alamin dan saksikan dengan beberapa teman tanpa bermaksud meremehkan agama tertentu. Cerita pengalaman ane ini cuman buat perenungan viewer aja, terutama bagi ane sendiri saat itu yg bener2 ga percaya bahwa jiwa yg dikorbankan untuk Iblis itu sebagai persembahan memang ada. Jangankan di pedesaan, di kota seperti kota batam saat itu aja terjadi. Wallahualam gansis. Oke mari kita mulai. Setelah mendapatkan goreng2an bonus dari sisa2 penjualan kantin, ane pun dengan beringas mengkonsumsinya. Maklum, sudah masuk jam makan siang, apalagi abis ngangkut si melisa yg berbobot seperti beras sekarung 50kg. Disela-sela kami menunggu bel yg akan menandakan berakhirnya jam pelajaran hari itu, ane pun menyarankan si melisa buat sms sopirnya buat jemput sekarang. Si melisa pun menuruti saran ane, segera dia mengambil hape dari sakunya dan mengetik sms. "eh nanti keluar UKSnya ...

PEMBERANGKATAN TERAKHIR

“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.” KERETA MALAM -PEMBERANGKATAN TERAKHIR- A THREAD Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'. Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update. Maleman kita mulai.  Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--  --Aku yakin betul kalau aku menaiki kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku berjalan kaki sepanjang rel yang entah muncul dari mana.  Senin malam, 2006. Aku hendak pulang ke Yogya karena mendapat kabar bapakku sakit. Kala itu aku masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di pinggiran Ibu Kota.  Karena dapat kabar men...

”Aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.”

 “Aku seorang penembang panggung dan aku memakai susuk. Keputusan mencabut susuk kukira hal yang mudah. Tapi sekarang, aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.” Tengah malam, di satu rumah berbilik kayu, seorang wanita bernama Taya tersentak dari tidur lalu mengerang kesakitan. Urat-urat di wajahnya membiru menonjol keluar menegang. Napasnya tercekat, membuat suaranya berhenti di tenggorokan—  “Kak!! Kakak kenapa?!” Sani, adik Taya satu-satunya panik ketika mendapati kakaknya meringis kesakitan. Ada yang tak biasa dari wajah Taya—di sekujur pipi, dagu dan kening menonjol garis-garis keras serupa jarum-jarum halus.  Sani menyadari sesuatu, buru-buru dia membekap mulut sang kakak agar tak bersuara. “Ssssssttttt” isyarat Sani pelan sambil menangis tanpa suara  Taya mengatur napas, kedua tangannya menggenggam erat sprei dan matanya mendelik ke atas menahan sakit. “KRENGG!!” Suara lonceng terdengar mendekat.  “KREENGG!!” “KREEENGGG!” Lonceng ter...