Langsung ke konten utama

Misteri Rumah Sangit Episode-1: Mencari Sahabat yang Minta Tolong



Ini pengalaman hidup saya pada tahun 2019, yang tidak pernah saya harap akan terjebak mengalaminya begini… Hidup saya saat itu seperti mimpi buruk… Mimpi buruk yang masih menghantui saya sampai hari ini…


Saya berharap sore itu harusnya tetap diam saja di rumah. Saya berharap sore itu terus saja belajar untuk lulus kuliah, di kamar saya yang hangat dan nyaman. Namun, sore itu saya malah pergi ke rumah teman kuliah saya, namanya Wening.


Pada sore itu, lewat aplikasi chatting Wening tiba-tiba mengirim sebuah video ke saya… Satu video mengerikan yang waktu itu membuat saya nekad menempuh perjalanan jauh dari rumah saya ke alamat rumahnya yang saya ketahui berada di daerah Patahan.


Wening: Tolong… Saya akan dikurung di kerangkeng… akan dikorbankan!!

Jangan!! Jangan!! Nang, Ning, Ning, Nang, Ning, eu… Nang, Ning, Ning,

Nang, Ning, eu!!”



Dalam video itu, Wening tampak sangat ketakutan, dan anehnya… dia malah menyanyikan lagu kanak-kanak yang misterius itu keras-keras, sebelum kemudian videonya berhenti.


Saya: Ning, aku ke rumah kamu sekarang!!


Maka, sore itu saya tiba dan berdiri di depan pintu rumahnya. Saya cuma tahu alamat rumahnya yang pernah Wening bilang, tapi belum pernah ke rumahnya sebelum ini… Tadi di tengah jalan setelah masuk daerah Patahan, saya sempat kebingungan… Untung tadi saya berpapasan sama seorang ibu yang bisa menunjukkan jalan ke rumah keluarga Wening. Barusan saya sudah mengetuk pintu rumah ini, tapi tidak ada jawaban…


Saya hendak mengetuk pintu depan ini sekali lagi. Kalau masih tidak ada jawaban, saya mau pulang saja… Tapi, tiba-tiba pintu di hadapan saya itu dibuka dari dalam.


Seorang pria gagah dalam balutan kemeja dan celana berwarna putih menyambut saya. Pakaiannya agak kotor, seperti baru saja melakukan pekerjaan berat. Raut wajahnya sangat mirip dengan Wening, dan saya pernah diceritakan juga kalau Wening memang punya kakak kembar, namanya Wenang. Pria yang sekarang berdiri di hadapan saya ini.


“Cari Wening, ya?” Wenang tersenyum dan bertanya dengan sopan.


“I-iya… Cari Wening… Ada?” Saya menjawabnya dengan gugup.


“Ada,” jawab Wenang. “Silakan masuk…”


Harusnya saya pulang… Harusnya saya pulang saja… Tapi sore itu saya malah melangkah masuk ke rumahnya.


Ruang tamunya dipenuhi aroma wangi bunga sedap malam, yang suka tercium di kampus… yang suka tercium tiap kali saya bersama Wening di kampus… Memang ada sebuah vas penuh batang bunga sedap malam di atas meja di ruang tamu ini, dan di sebelahnya ada sebuah radio tua.


Radio tua ini mengalunkan siaran berita dari posisinya di antara deretan figura foto keluarga, yang berisi wajah Wening, Wenang, dan ibu mereka. “…Dilaporkan banyak keluarga diduga terlibat dalam pesugihan, yang mengorbankan orang-orang terdekat kepada iblis. Sehingga menyebabkan banyaknya laporan orang hilang…”


Tangan Wenang tiba-tiba menurunkan volume siaran radio itu, dan lanjut berkata, “Silakan lewat sini…”


Wenang menunjuk sebuah pintu di ujung ruangan, yang sepertinya menghubungkan untuk masuk ke ruangan lainnya di rumah ini.


“Oh, iya…” Mengangguk demi kesopanan, saya pun mendekat ke pintu itu.


Wenang membukakan pintu itu untuk saya. “Wening ada di kamarnya. Kamu bisa lewat sini, sekalian bertemu teman-temannya dulu…”


Saya tidak mengira kalau ada teman-teman Wening lainnya yang juga sedang ada di rumah ini. Saya pikir, bagus juga kalau lagi ramai…


“Iya, Kak…” Saya lantas melangkah melewati ambang pintu yang dibuka Wenang. Tapi, ruangan itu gelap, “Kak, lampunya masih mati…”


Satu tangan Wenang masih memegangi kenop pintu, sementara satunya lagi bergerak menyalakan lampu. Ruangan ini pun menyala, meski lampunya remang-remang. Ternyata ini sebuah gudang… Gudang yang penuh dengan tumpukan pakaian berdarah!!! Aromanya bau gosong dan amis menyengat!!!


Seketika Wenang menutup pintu di belakang saya, dan menguncinya. Saya gemetar ketakutan, dan spontan menjerit sekuat tenaga. “HEY!! WENANG!! KENAPA DIKUNCI?! TOLOOONNGG…!!! WENANG, KELUARKAN SAYA DARI SINI!!!”


Saya menggedor-gedor pintu di belakang saya. Tapi, Wenang masih menguncinya. Hanya terdengar suara Wenang dari balik pintu. “Silakan menunggu jadi tumbal berikutnya…”


<bersambung>

Postingan populer dari blog ini

Privacy Policy

  Narastudio built the app as a Free app. This SERVICE is provided by Narastudio at no cost and is intended for use as is. This page is used to inform visitors regarding our policies with the collection, use, and disclosure of Personal Information if anyone decided to use our Service. If you choose to use our Service, then you agree to the collection and use of information in relation to this policy. The Personal Information that we collect is used for providing and improving the Service. We will not use or share your information with anyone except as described in this Privacy Policy. Information Collection and Use For a better experience, while using our Service, I may require you to provide us with certain personally identifiable information. The information that I request will be retained on your device and is not collected by me in any way. The app does use third party services that may collect information used to identify you. Link to privacy policy of third party service prov...

Misteri Suara Tanpa Wujud

Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga. Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil. Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam. Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu. Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudn...

Pengalaman Bertemu Hantu/Jin (Chapter Jogjakarta)

Selamat datang di Jogja, Kami (makhluk ghoib) bukan hanya gossip Sahabat-sahabat ane yg pernah ane sebutin di chapter Palembang, semua berdiskusi mengenai pilihan universitas sebagai pijakan lanjutan pendidikan yg lebih tinggi. rata-rata sahabat ane memilih melanjutkan ke Universitas yg ada di Sumsel pula. Sedang ane, sepakat dengan si babay untuk melanjutkan ke Jogjakarta di Universitas yg terkenal dengan jaket warna tanahnya itu. Untuk memuluskan persiapan kami supaya dapat lulus, si babay menyarankan untuk ambil lembaga kursus intensif untuk persiapan SPMB. Neu**n yg berada di nyutran menjadi pilihan kami berdua dan setelah melaporkan biaya ke emak ane. Alhamdulilah emak ane setuju dan ane pun terdaftar di kursus ini. Rupa2nya emak si babay daftarin dia bukan di kursus sini, malah di pesaingnya. ini pegimane cerite, yg nyaranin malah ke tempat laen wakakkakakkaa. dengan penuh rasa tidak enak dan kekecewaan dengan emaknya, si babay berulang kali meminta maaf ane gansis.  Ya sudah...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4) Sekitar jam 8an malam ane akhrinya sampai di rumah. Emak ane ternyata lagi nonton tivi barenga adik2 ane. Sembari melepas baju di dalam kamar ane, telpon rumah pun berdering. Kebetulan karena memang di renovasi rumah ane, dari ruang tamu jadi kamar ane, ne telpon diinapkan di kamar ane. Mungkin disengaja apa kagak, tapi memang ne telpon rata2 berbunyi nyariin ane. Setelah berganti pakaian seragam rumah ane, celana pendek dan singletan, ane pun mengangkat ne telpon. Ternyata si melissa yang nelpon. Dia menanyakan dari tadi sore nelpon ane masih belum balik darimana. Ane pun menjelaskan habis ngajak shopping si billy yang pengen berubah dari bujang band malaysia jadi bujang band punk rock skaters. Kami pun terbahak-bahak dan ane menceritakan ekspresi si Billy yg menghabiskan 2 juta rupiah cuman untuk 3 kaos, 1 celana panjang dan 1 celana pendek wakakkakaka. Padahal dia niatan juga mau beli tas dan sepatu buat ke sekolah seperti si lexi da...

Lexi Terkencing-kencing

Beberapa hari setelah mendengar melisa yang sudah tiada, kami pun mencoba mengikhlaskan dan cuman mengingat melisa sebagai bagian kenangan yang indah waktu sekolah. Tampaknya bekas trauma dan sedih tentang melisa ini membuat kami benar2 enggan buat membahas dan mengingat2 kejadian maupun kenangan bersama melisa. Bahkan beberapa cew famous yg pernah membully si melisa merasa bersalah dan menemui ane buat menyampaikan permohonan maaf ke melisa (dipikirnya ane dukun apa bisa ngirim salam ke arwah). Ane bahkan sempet candain mereka uda ane sampaikan nanti melisa langsung datang sendiri ngobrol langsung dengan mereka, yang diikuti rasa horor dan kepanikan dari wajah2 cew famous ini wakakakakka. "eh besok sabtu, kita bikin tenda sendiri aja", ajak lexi "emang lu ada tenda?", tanya ane "ada keknya, tapi lupa aku taruh dimana nanti aku cek dlu", jelas lexi. "gua ada, tenang aja nj*ng, tapi tenda ku ne gede banget", ujar mister "ah bagus kalau gede, ...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6) Sebelum ane mulai lanjut ke part 6, ini semua bener2 terjadi sesuai yg ane alamin dan saksikan dengan beberapa teman tanpa bermaksud meremehkan agama tertentu. Cerita pengalaman ane ini cuman buat perenungan viewer aja, terutama bagi ane sendiri saat itu yg bener2 ga percaya bahwa jiwa yg dikorbankan untuk Iblis itu sebagai persembahan memang ada. Jangankan di pedesaan, di kota seperti kota batam saat itu aja terjadi. Wallahualam gansis. Oke mari kita mulai. Setelah mendapatkan goreng2an bonus dari sisa2 penjualan kantin, ane pun dengan beringas mengkonsumsinya. Maklum, sudah masuk jam makan siang, apalagi abis ngangkut si melisa yg berbobot seperti beras sekarung 50kg. Disela-sela kami menunggu bel yg akan menandakan berakhirnya jam pelajaran hari itu, ane pun menyarankan si melisa buat sms sopirnya buat jemput sekarang. Si melisa pun menuruti saran ane, segera dia mengambil hape dari sakunya dan mengetik sms. "eh nanti keluar UKSnya ...

PEMBERANGKATAN TERAKHIR

“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.” KERETA MALAM -PEMBERANGKATAN TERAKHIR- A THREAD Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'. Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update. Maleman kita mulai.  Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--  --Aku yakin betul kalau aku menaiki kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku berjalan kaki sepanjang rel yang entah muncul dari mana.  Senin malam, 2006. Aku hendak pulang ke Yogya karena mendapat kabar bapakku sakit. Kala itu aku masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di pinggiran Ibu Kota.  Karena dapat kabar men...

”Aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.”

 “Aku seorang penembang panggung dan aku memakai susuk. Keputusan mencabut susuk kukira hal yang mudah. Tapi sekarang, aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.” Tengah malam, di satu rumah berbilik kayu, seorang wanita bernama Taya tersentak dari tidur lalu mengerang kesakitan. Urat-urat di wajahnya membiru menonjol keluar menegang. Napasnya tercekat, membuat suaranya berhenti di tenggorokan—  “Kak!! Kakak kenapa?!” Sani, adik Taya satu-satunya panik ketika mendapati kakaknya meringis kesakitan. Ada yang tak biasa dari wajah Taya—di sekujur pipi, dagu dan kening menonjol garis-garis keras serupa jarum-jarum halus.  Sani menyadari sesuatu, buru-buru dia membekap mulut sang kakak agar tak bersuara. “Ssssssttttt” isyarat Sani pelan sambil menangis tanpa suara  Taya mengatur napas, kedua tangannya menggenggam erat sprei dan matanya mendelik ke atas menahan sakit. “KRENGG!!” Suara lonceng terdengar mendekat.  “KREENGG!!” “KREEENGGG!” Lonceng ter...