Cerita Mama ini mirip dengan kejadian yang dialami bapak.
Saat keluarga mama masih tinggal di Lampung, Uyut (nenek mama) tinggal di Jawa Tengah sehingga beberapa kali mama pulang ke Jawa Tengah. Rumah di Jawa yang ditinggali uyut hanya berupa rumah bidik yang hanya punya 1 kamar. Di sebelah kiri rumah ada lahan kosong sekitar 10x15 meter. Di depan rumah ada jalanan kecil dan di seberangnya ada tungku besar untuk pembakaran bata. Waktu kecil saya sering bermain di sana bersama sepupu" dan pulang dengan wajah dan baju belepotan abu sisa pembakaran. Dan di belakang tungku pembakaran ada pemakaman yang tidak terlalu besar.
Saat itu mama masih masih sekolah sd sekitar kelas 2/3. Menjelang maghrib mama sedang menangis karena ngambek gara" suatu hal. Sambil mengadap lahan kosong di samping rumah. Kemudian saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna jadi kemerahan, mama melihat seekor anak kambing keluar dari pepohonan di samping tungku pembakaran.
Mereka pun beradu pandang, masih sesenggukan akibat tangisannya mama terus menatap anak kambing itu. Lambat lau anak kambing membesar seperti kambing dewasa, namun tidak berhenti sampai di situ. Tubuhnya terus membesar dan tanduknya terus memanjang sampai kambing itu menyerupai banteng. Tangisan mama berhenti digantikan ketakutan yang amat sangat sampai tubuhnya gemetaran.
Makhluk itu menatap tajam ke arah mama dan mendekat, namun begitu jarak sudah semakin dekat tiba-tiba dia menghilang. Mama pun langsung menjerit dan menangis sejadi-jadinya.
Nenekku berlari keluar rumah dan menggendong mama sambil menenangkannya.
"Setan maakk setaann... Huhuhu.." tangis mama menceritakan apa yang dilihatnya.
"Makanya maghrib jangan di luar, karena maghrib itu waktunya setan-setan keluar." Ujar nenek yang menasihati mama dengan suara lembutnya.
Nenek pun masuk kembali ke dalam rumah sambil menggendong mama yang mulai reda tangisannya.