Langsung ke konten utama

Me #3 -TEROR DI PESANTREN-

 Mohon maaf kepada reader sekalian karena kesibukan RL, apdet cerita jadi lambat saya post. Sebagai permintaan maaf post kali ini akan saya gabung beberapa cerita dalam satu post.


Teror di Pesantren



Lulus sd, bapak menyekolahkan saya ke salah satu pesantren yang ada di Madura. Tanpa ada saudara atau kenalan mulai lah saya menyesuaikan diri di lingkungan yang sangat berbeda dengan tempat tinggal saya.


Setiap tempat pasti punya cerita horor yang jadi salah satu sejarah perjalanan tempat tersebut. Termasuk pesantren yang saya masuki, banyak sekali cerita horor yang saya dengar terutama di awal-awal berdirinya pesantren. Ditambah lagi pulau Madura juga terkenal sebagai salah satu daerah yang sarat dengan perdukunan. Sehingga cerita tentang santet atau teror dengan menggunakan ilmu hitam jadi hal yang sudah sering terdengar. Bahkan penampakan panah api yang melesat di langit malam atau bola api yang melayang dan berputar-putar di atas pesantren jadi fenomena yang biasa bagi saya dan santri lainnya. Meskipun pada saat melihatnya pertama kali saya sangat heran sekaligus takut, namun bercampur dengan rasa tidak percaya juga.

Tapi, menurut para orang tua perdukunan sekarang tidak bisa dibandingkan dengan tahun 80-90 an dulu. Dengan cerita yang sangat mengerikan menurut saya.

Cerita kali ini memang tidak berhubungan dengan perdukunan, tapi ini salah satu teror yang sempat saya rasakan saat di pesantren (meskipun saya tidak melihat langsung makhluk yang meneror tapi sebagian besar teman saya benar2 melihatnya)


Di pesantren saat itu kamar dibagi menjadi 3 blok. Blok a, b dan c berdasar waktu pembangunannya. Saya menempati blok c yang merupakan bangunan baru. Blok c terdiri dari 2 lantai berbentuk U dan tiap lantai dibagi menjadi dua dengan pemisah tangga di tengah. Lantai satu di kiri (barat) ada blok c1 dan di kanan (timur) blok c2, di atas blok c1 ada c3 dan di atas blok c2 ada c4, masing-masing terdiri dari 6 kamar, jadi total ada 24 kamar. Nah kamar saya ini ada di blok c3. Selain tangga di tengah ada lagi 2 tangga di sudut barat dan timur.

Saat itu saya masih kelas 2 tsanawiyah (smp), teror diawali oleh kakak kelas yang satu kamar dengan saya. Satu kamar ini bisa diisi 20-25 orang dari kelas 1 sampai kelas 3. Setiap malam kakak kelas saya ini (sebut saja Siti) selalu mendengar suara yang memanggil namanya dengan lirih. Tapi hanya dia saja yang dapat mendengarnya. Meskipun yang lain tidak bisa mendengar rasa takut itu menyebar ke yang lain karena melihat ka Siti yang setiap malam selalu ketakutan bahkan pernah sampai menangis karena memdengar suara tersebut. Ka Siti bilang suara itu sangat dekat bahkan seperti di samping telinganya. Setelah hampir seminggu akhirnya suara itu hilang sama sekali.

Sampai suatu malam, salah satu teman dekat saya Zulva, saat hendak menaiki tangga di sudut barat bersama Amal setelah dari kamar mandi. Di bawah tangga ada gudang sempit yang hanya diberi pembatas sekaligus pintu dari triplek, tanpa lampu dan tanpa atap, jadi kalau naik tangga bisa lihat ke gudang dari atasnya.

Saat akan menaiki tangga Zulva melihat pintu gudang sedikit terbuka karena terganjal sesuatu seperti batu bulat yang besar. Karena penasaran Zulva sedikit mendekat, namun tiba-tiba batu itu bergerak. Itu bukanlah batu, tapi sebuah KEPALA dengan wajah hancur dan berlumur darah dia menatapnya. Zulva pun berteriak dan jatuh terduduk, lemas. Amal yang sudah lebih dulu menaiki tangga terkejut dan melihat Zulva sedang duduk menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

Dengan bingung dipapahnya Zulva yang masih lemas menaiki tangga menuju kamar. Setelah tenang barulah ia menceritakan apa yang dilihatnya.

Tak hanya Zulva, banyak yang melihat penampakan di gudang bawah tangga ini. Ditambah lagi ka Siti yang kembali mendengar suara-suara yang memanggilnya saat malam. Kadang-kadang tercium bau anyir darah dari gudang. Entah apa yang membuat makhluk itu berdiam di sana. Tapi teror itu hilang dengan sendirinya setelah hampir sebulan lamanya.


Teror lainnya terjadi saat saya kelas 3. Penampakan yang sering dilihat adalah sosok dengan jubah hitam bertudung yang membawa sabit besar. Mirip seperti sosok malaikat maut dalam film-film. Tiap semester kami selalu berpindah kamar, dan saya dapat kamar di blok c4 di sebelah tangga di sudut timur.

Kejadian pertama saat siang hari, teman sekamar saya sebut saja Nia dan Dila. Siang itu Nia sedang berdiri bersandar di jendela samping pintu yang tingginya 1 meter, dan lurus di depannya sekitar 4 meter ada Dila yang sedang bercermin di cermin yang menempel di tembok. Dan saya duduk di kanan Nia. Cerminnya lumayan besar, jadi dari posisi Dila dia bisa melihat Nia sekaligus jendela di belakang Nia dan Nia juga bisa melihat bayangan dirinya melalui cermin.

Tiba-tiba Nia berteriak dan langsung menangis sementara Dila yang sedang bercermin terjatuh lemas dengan mata yang melebar. Orang-orang yang ada di kamar pun ikut kaget karena teriakan Nia. Sebagian menenangkan Nia dan sebagian lagi mengerumuni Dila.

Dila yang lebih dulu bisa menenangkan dirinya bilang bahwa dari cermin dia melihat sosok berjubah hitam itu lewat di depan kamar tepat di belakang jendela yang disandari Nia. Setelah itu banyak juga yang melihat penampakan yang sama. Anehnya setiap ada yang melihat, makhluk itu pasti ada di belakang salah satu kakak kelas saya, dia ini dari Malaysia. Dari kejadian itu banyak cerita dari teman sekamar kakak kelas saya itu kalau dia sempat 2 kali terpergok memakai sabuk aneh dan lumayan besar meski dia memakai dan melepasnya diam-diam seakan akan menutupi agar yang lain tidak melihat. Karena begitu meresahkan sampai ustad pengurus pesantren pun turun tangan. Ternyata setelah diselidiki (kakak kelas saya ini diinterogasi) dia memang memakai sabuk yang merupakan jimat dan makhluk itu adalah penunggu dari jimat itu. Entah apa tujuan dia memakainya. Setelah dipaksa untuk melepas (sabuknya ini sangat sulit dilepas karena punya kancing yang banyak) dan menyerahkan sabuknya, tak berapa lama kakak kelas saya ini keluar dari pesantren. Sekitar 2 minggu setelah kejadian. Dengan diambilnya sabuk itu maka berakhir juga lah teror makhluk bertudung itu.

Selain teror penampakan yang sering terjadi adalah doppelganger. Makhluk yang sering menyerupai orang lain. Dia selalu muncul di tangga sudut timur samping kamar saya.


Nona Kunti



Kamar mandi di blok c ada di belakang kamar yang memanjang dari barat ke timur dan dibagi jadi empat sesuai jumlah blok c. Kamar mandinya berjejer dengan satu kolam yang memanjang. Jadi kamar mandi ini disekat namun bak mandinya tersambung. Jadi kalau sampo atau sabun habis bisa minta ke teman disebelah melalui bak mandi ini. Karena jumlah kamar mandi yang tidak sebanding dengan jumlah santri maka antrian panjang pun sudah jadi pemandangan sehari hari tiap pagi dan sore. Apalagi menjelang maghrib setelah kegiatan sore, waktu yang tersisa sedikit sebelum bel shalat jamaah membuat antrian sedikit kisruh oleh anak anak yang menggedor pintu kamar mandi jika temannya mandi terlalu lama. Namun bagi santri yang sedang berhalangan biasanya memilih mandi saat anak-anak lain sudah pergi ke musholla. Seperti saya saat itu, sambil mandi saya juga mencuci pakaian bareng Anggun.

Bel sudah berbunyi dan kamar mandi sudah sepi, terdengar suara shalawat dari masjid menunggu adzan maghrib. Saya mandi sambil ngobrol sama Anggun, karena tembok pembatasnya tidak menutup sampai atap. Hanya setinggi 2 meteran

Anggun : Na, kamu udah selesai?

Saya : Masih lama Gun. Kamu udah?

Anggun : Bentar lagi. Kamu mau ditungguin?

Saya : Gak usah, kamu duluan aja. Aku masih lama.


Tak lama kemudian saya mendengar Anggun membuka pintu kamar mandi dan keluar.

Anggun : Na kamu belum selesai?

Saya : belum, kamu duluan aja (saya ini orang yang kalo mandi lamaaaa banget)

Anggun : tapi udah gak ada orang Na, tinggal kamu sendirian lho.

Saya : iya udah gak papa duluan aja sana

Anggun : yaudah aku duluan ya


Tak lama kemudian suasana begitu sepi hanya suara yang saya buat yang terdengar. Tiba tiba saya mendengar ada suara orang yang sedang menangis.


"anak siapa tuh nangis di kamar mandi?" pikir saya. Ah, mungkin dia lagi kangen rumahnya. Saya sudah hampir selesai dan tinggal memakai baju. Tapi ada yang aneh, saat saya dengarkan suara itu semakin mendekat seperti berpindah dari satu kamar mandi ke kamar mandi lainnya. Dan saya baru ingat kalau anggun bilang tidak ada orang lagi selain saya. Dan saya juga tidak mendengar ada orang masuk. Karena pintu kamar mandi ini terbuat dari balok kayu yang ditutup seng, dan engsel-engsel yang sudah berkarat membuat suara berisik.

"Kreeekkk... Dhum" begitulah kira-kira bunyinya saat orang menutup atau membuka pintunya emoticon-Big Grin


Jadi kalau ada orang lain datang pasti saya tau. Dengan terburu buru saya selesaikan semuanya dan tanpa sadar membanting pintu "Dduaakk!!" setengah berlari saya keluar kamar mandi saat suara itu tepat di kamar mandi sebelah saya. Setelah keluar saya berdiri di jemuran yang ada di depan kamar mandi, dan memang tak ada satupun kamar mandi yang terisi. Buru-buru saya jemur pakaian, untung saja matahari masih belum sepenuhnya terbenam sehingga langit masih terang dengan sedikit warna kemerahan. Selesai menjemur saya langsung berlari menuju kamar, terdengar suara adzan dari masjid. Dan saat saya berlari terdengar suara tawa cekikikan dari belakang saya.

"Sial,, diketawain lagi" dan saya pun mempercepat lari menuju kamar.


Kamar Mandi (lagi)



Sore itu saat kegiatan sedang kosong (atau sedang libur? entah saya lupa) saya sedang mandi bareng Anggun di kamar mandi sebelah saya. Sambil ngobrol ngalur ngidul dan ketawa ketiwi. Anggun selesai lebih dulu dan menunggu depan pintu kamar mandi saya. Waktu itu saya lagi centil-centilnya, sampe bawa cermin kecil (entah apa fungsinya) dan sisir ke kamar mandi, hehehe. Padahal waktu sd mah boro-boro bedakan, sisiran pun harus ditarik dulu rambutnya sama mama biar gak lari. emoticon-Stick Out Tongue

Selesai mandi dan sudah berpakaian, ditambah sisiran. Sambil menghadap pintu saya bercermin. Awalnya hanya terlihat wajah saya, kemudian saat saya jauhkan sedikit cerminnya, di belakang saya duduk sesosok pria di atas tembok bak mandi yang setinggi pinggang, kepalanya terkulai aneh di bahu, seperti lehernya patah menatap saya dari belakang. Hawanya juga berubah jadi pengap banget, sampe saya keringetan. Padahal baru selesai mandi.

Dengan ketakutan saya buka pintu (dibanting). Anggun yang berdiri di depan pintu pun kaget.

"Kenapa Na?" tanya anggun

"Gune, di belakangku ada apa?"

Anggun mengintip ke belakangku. "Gak ada apa-apa. Kenapa sih?"

Kutarik tangannya, "nanti aja kuceritain di kamar" kataku sambil terus menggandeng tangannya meninggalkan kamar mandi.

Dari situ saya gak pernah lagi bawa cermin, bahkan suka parno sendiri kalo masuk kamar mandi yang ada cerminnya.

Postingan populer dari blog ini

Privacy Policy

  Narastudio built the app as a Free app. This SERVICE is provided by Narastudio at no cost and is intended for use as is. This page is used to inform visitors regarding our policies with the collection, use, and disclosure of Personal Information if anyone decided to use our Service. If you choose to use our Service, then you agree to the collection and use of information in relation to this policy. The Personal Information that we collect is used for providing and improving the Service. We will not use or share your information with anyone except as described in this Privacy Policy. Information Collection and Use For a better experience, while using our Service, I may require you to provide us with certain personally identifiable information. The information that I request will be retained on your device and is not collected by me in any way. The app does use third party services that may collect information used to identify you. Link to privacy policy of third party service prov...

Misteri Suara Tanpa Wujud

Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga. Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil. Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam. Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu. Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudn...

Pengalaman Bertemu Hantu/Jin (Chapter Jogjakarta)

Selamat datang di Jogja, Kami (makhluk ghoib) bukan hanya gossip Sahabat-sahabat ane yg pernah ane sebutin di chapter Palembang, semua berdiskusi mengenai pilihan universitas sebagai pijakan lanjutan pendidikan yg lebih tinggi. rata-rata sahabat ane memilih melanjutkan ke Universitas yg ada di Sumsel pula. Sedang ane, sepakat dengan si babay untuk melanjutkan ke Jogjakarta di Universitas yg terkenal dengan jaket warna tanahnya itu. Untuk memuluskan persiapan kami supaya dapat lulus, si babay menyarankan untuk ambil lembaga kursus intensif untuk persiapan SPMB. Neu**n yg berada di nyutran menjadi pilihan kami berdua dan setelah melaporkan biaya ke emak ane. Alhamdulilah emak ane setuju dan ane pun terdaftar di kursus ini. Rupa2nya emak si babay daftarin dia bukan di kursus sini, malah di pesaingnya. ini pegimane cerite, yg nyaranin malah ke tempat laen wakakkakakkaa. dengan penuh rasa tidak enak dan kekecewaan dengan emaknya, si babay berulang kali meminta maaf ane gansis.  Ya sudah...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4) Sekitar jam 8an malam ane akhrinya sampai di rumah. Emak ane ternyata lagi nonton tivi barenga adik2 ane. Sembari melepas baju di dalam kamar ane, telpon rumah pun berdering. Kebetulan karena memang di renovasi rumah ane, dari ruang tamu jadi kamar ane, ne telpon diinapkan di kamar ane. Mungkin disengaja apa kagak, tapi memang ne telpon rata2 berbunyi nyariin ane. Setelah berganti pakaian seragam rumah ane, celana pendek dan singletan, ane pun mengangkat ne telpon. Ternyata si melissa yang nelpon. Dia menanyakan dari tadi sore nelpon ane masih belum balik darimana. Ane pun menjelaskan habis ngajak shopping si billy yang pengen berubah dari bujang band malaysia jadi bujang band punk rock skaters. Kami pun terbahak-bahak dan ane menceritakan ekspresi si Billy yg menghabiskan 2 juta rupiah cuman untuk 3 kaos, 1 celana panjang dan 1 celana pendek wakakkakaka. Padahal dia niatan juga mau beli tas dan sepatu buat ke sekolah seperti si lexi da...

Lexi Terkencing-kencing

Beberapa hari setelah mendengar melisa yang sudah tiada, kami pun mencoba mengikhlaskan dan cuman mengingat melisa sebagai bagian kenangan yang indah waktu sekolah. Tampaknya bekas trauma dan sedih tentang melisa ini membuat kami benar2 enggan buat membahas dan mengingat2 kejadian maupun kenangan bersama melisa. Bahkan beberapa cew famous yg pernah membully si melisa merasa bersalah dan menemui ane buat menyampaikan permohonan maaf ke melisa (dipikirnya ane dukun apa bisa ngirim salam ke arwah). Ane bahkan sempet candain mereka uda ane sampaikan nanti melisa langsung datang sendiri ngobrol langsung dengan mereka, yang diikuti rasa horor dan kepanikan dari wajah2 cew famous ini wakakakakka. "eh besok sabtu, kita bikin tenda sendiri aja", ajak lexi "emang lu ada tenda?", tanya ane "ada keknya, tapi lupa aku taruh dimana nanti aku cek dlu", jelas lexi. "gua ada, tenang aja nj*ng, tapi tenda ku ne gede banget", ujar mister "ah bagus kalau gede, ...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6) Sebelum ane mulai lanjut ke part 6, ini semua bener2 terjadi sesuai yg ane alamin dan saksikan dengan beberapa teman tanpa bermaksud meremehkan agama tertentu. Cerita pengalaman ane ini cuman buat perenungan viewer aja, terutama bagi ane sendiri saat itu yg bener2 ga percaya bahwa jiwa yg dikorbankan untuk Iblis itu sebagai persembahan memang ada. Jangankan di pedesaan, di kota seperti kota batam saat itu aja terjadi. Wallahualam gansis. Oke mari kita mulai. Setelah mendapatkan goreng2an bonus dari sisa2 penjualan kantin, ane pun dengan beringas mengkonsumsinya. Maklum, sudah masuk jam makan siang, apalagi abis ngangkut si melisa yg berbobot seperti beras sekarung 50kg. Disela-sela kami menunggu bel yg akan menandakan berakhirnya jam pelajaran hari itu, ane pun menyarankan si melisa buat sms sopirnya buat jemput sekarang. Si melisa pun menuruti saran ane, segera dia mengambil hape dari sakunya dan mengetik sms. "eh nanti keluar UKSnya ...

PEMBERANGKATAN TERAKHIR

“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.” KERETA MALAM -PEMBERANGKATAN TERAKHIR- A THREAD Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'. Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update. Maleman kita mulai.  Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--  --Aku yakin betul kalau aku menaiki kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku berjalan kaki sepanjang rel yang entah muncul dari mana.  Senin malam, 2006. Aku hendak pulang ke Yogya karena mendapat kabar bapakku sakit. Kala itu aku masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di pinggiran Ibu Kota.  Karena dapat kabar men...

”Aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.”

 “Aku seorang penembang panggung dan aku memakai susuk. Keputusan mencabut susuk kukira hal yang mudah. Tapi sekarang, aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.” Tengah malam, di satu rumah berbilik kayu, seorang wanita bernama Taya tersentak dari tidur lalu mengerang kesakitan. Urat-urat di wajahnya membiru menonjol keluar menegang. Napasnya tercekat, membuat suaranya berhenti di tenggorokan—  “Kak!! Kakak kenapa?!” Sani, adik Taya satu-satunya panik ketika mendapati kakaknya meringis kesakitan. Ada yang tak biasa dari wajah Taya—di sekujur pipi, dagu dan kening menonjol garis-garis keras serupa jarum-jarum halus.  Sani menyadari sesuatu, buru-buru dia membekap mulut sang kakak agar tak bersuara. “Ssssssttttt” isyarat Sani pelan sambil menangis tanpa suara  Taya mengatur napas, kedua tangannya menggenggam erat sprei dan matanya mendelik ke atas menahan sakit. “KRENGG!!” Suara lonceng terdengar mendekat.  “KREENGG!!” “KREEENGGG!” Lonceng ter...