Mohon maaf kepada reader sekalian karena kesibukan RL, apdet cerita jadi lambat saya post. Sebagai permintaan maaf post kali ini akan saya gabung beberapa cerita dalam satu post.
Teror di Pesantren
Lulus sd, bapak menyekolahkan saya ke salah satu pesantren yang ada di Madura. Tanpa ada saudara atau kenalan mulai lah saya menyesuaikan diri di lingkungan yang sangat berbeda dengan tempat tinggal saya.
Setiap tempat pasti punya cerita horor yang jadi salah satu sejarah perjalanan tempat tersebut. Termasuk pesantren yang saya masuki, banyak sekali cerita horor yang saya dengar terutama di awal-awal berdirinya pesantren. Ditambah lagi pulau Madura juga terkenal sebagai salah satu daerah yang sarat dengan perdukunan. Sehingga cerita tentang santet atau teror dengan menggunakan ilmu hitam jadi hal yang sudah sering terdengar. Bahkan penampakan panah api yang melesat di langit malam atau bola api yang melayang dan berputar-putar di atas pesantren jadi fenomena yang biasa bagi saya dan santri lainnya. Meskipun pada saat melihatnya pertama kali saya sangat heran sekaligus takut, namun bercampur dengan rasa tidak percaya juga.
Tapi, menurut para orang tua perdukunan sekarang tidak bisa dibandingkan dengan tahun 80-90 an dulu. Dengan cerita yang sangat mengerikan menurut saya.
Cerita kali ini memang tidak berhubungan dengan perdukunan, tapi ini salah satu teror yang sempat saya rasakan saat di pesantren (meskipun saya tidak melihat langsung makhluk yang meneror tapi sebagian besar teman saya benar2 melihatnya)
Di pesantren saat itu kamar dibagi menjadi 3 blok. Blok a, b dan c berdasar waktu pembangunannya. Saya menempati blok c yang merupakan bangunan baru. Blok c terdiri dari 2 lantai berbentuk U dan tiap lantai dibagi menjadi dua dengan pemisah tangga di tengah. Lantai satu di kiri (barat) ada blok c1 dan di kanan (timur) blok c2, di atas blok c1 ada c3 dan di atas blok c2 ada c4, masing-masing terdiri dari 6 kamar, jadi total ada 24 kamar. Nah kamar saya ini ada di blok c3. Selain tangga di tengah ada lagi 2 tangga di sudut barat dan timur.
Saat itu saya masih kelas 2 tsanawiyah (smp), teror diawali oleh kakak kelas yang satu kamar dengan saya. Satu kamar ini bisa diisi 20-25 orang dari kelas 1 sampai kelas 3. Setiap malam kakak kelas saya ini (sebut saja Siti) selalu mendengar suara yang memanggil namanya dengan lirih. Tapi hanya dia saja yang dapat mendengarnya. Meskipun yang lain tidak bisa mendengar rasa takut itu menyebar ke yang lain karena melihat ka Siti yang setiap malam selalu ketakutan bahkan pernah sampai menangis karena memdengar suara tersebut. Ka Siti bilang suara itu sangat dekat bahkan seperti di samping telinganya. Setelah hampir seminggu akhirnya suara itu hilang sama sekali.
Sampai suatu malam, salah satu teman dekat saya Zulva, saat hendak menaiki tangga di sudut barat bersama Amal setelah dari kamar mandi. Di bawah tangga ada gudang sempit yang hanya diberi pembatas sekaligus pintu dari triplek, tanpa lampu dan tanpa atap, jadi kalau naik tangga bisa lihat ke gudang dari atasnya.
Saat akan menaiki tangga Zulva melihat pintu gudang sedikit terbuka karena terganjal sesuatu seperti batu bulat yang besar. Karena penasaran Zulva sedikit mendekat, namun tiba-tiba batu itu bergerak. Itu bukanlah batu, tapi sebuah KEPALA dengan wajah hancur dan berlumur darah dia menatapnya. Zulva pun berteriak dan jatuh terduduk, lemas. Amal yang sudah lebih dulu menaiki tangga terkejut dan melihat Zulva sedang duduk menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Dengan bingung dipapahnya Zulva yang masih lemas menaiki tangga menuju kamar. Setelah tenang barulah ia menceritakan apa yang dilihatnya.
Tak hanya Zulva, banyak yang melihat penampakan di gudang bawah tangga ini. Ditambah lagi ka Siti yang kembali mendengar suara-suara yang memanggilnya saat malam. Kadang-kadang tercium bau anyir darah dari gudang. Entah apa yang membuat makhluk itu berdiam di sana. Tapi teror itu hilang dengan sendirinya setelah hampir sebulan lamanya.
Teror lainnya terjadi saat saya kelas 3. Penampakan yang sering dilihat adalah sosok dengan jubah hitam bertudung yang membawa sabit besar. Mirip seperti sosok malaikat maut dalam film-film. Tiap semester kami selalu berpindah kamar, dan saya dapat kamar di blok c4 di sebelah tangga di sudut timur.
Kejadian pertama saat siang hari, teman sekamar saya sebut saja Nia dan Dila. Siang itu Nia sedang berdiri bersandar di jendela samping pintu yang tingginya 1 meter, dan lurus di depannya sekitar 4 meter ada Dila yang sedang bercermin di cermin yang menempel di tembok. Dan saya duduk di kanan Nia. Cerminnya lumayan besar, jadi dari posisi Dila dia bisa melihat Nia sekaligus jendela di belakang Nia dan Nia juga bisa melihat bayangan dirinya melalui cermin.
Tiba-tiba Nia berteriak dan langsung menangis sementara Dila yang sedang bercermin terjatuh lemas dengan mata yang melebar. Orang-orang yang ada di kamar pun ikut kaget karena teriakan Nia. Sebagian menenangkan Nia dan sebagian lagi mengerumuni Dila.
Dila yang lebih dulu bisa menenangkan dirinya bilang bahwa dari cermin dia melihat sosok berjubah hitam itu lewat di depan kamar tepat di belakang jendela yang disandari Nia. Setelah itu banyak juga yang melihat penampakan yang sama. Anehnya setiap ada yang melihat, makhluk itu pasti ada di belakang salah satu kakak kelas saya, dia ini dari Malaysia. Dari kejadian itu banyak cerita dari teman sekamar kakak kelas saya itu kalau dia sempat 2 kali terpergok memakai sabuk aneh dan lumayan besar meski dia memakai dan melepasnya diam-diam seakan akan menutupi agar yang lain tidak melihat. Karena begitu meresahkan sampai ustad pengurus pesantren pun turun tangan. Ternyata setelah diselidiki (kakak kelas saya ini diinterogasi) dia memang memakai sabuk yang merupakan jimat dan makhluk itu adalah penunggu dari jimat itu. Entah apa tujuan dia memakainya. Setelah dipaksa untuk melepas (sabuknya ini sangat sulit dilepas karena punya kancing yang banyak) dan menyerahkan sabuknya, tak berapa lama kakak kelas saya ini keluar dari pesantren. Sekitar 2 minggu setelah kejadian. Dengan diambilnya sabuk itu maka berakhir juga lah teror makhluk bertudung itu.
Selain teror penampakan yang sering terjadi adalah doppelganger. Makhluk yang sering menyerupai orang lain. Dia selalu muncul di tangga sudut timur samping kamar saya.
Nona Kunti
Kamar mandi di blok c ada di belakang kamar yang memanjang dari barat ke timur dan dibagi jadi empat sesuai jumlah blok c. Kamar mandinya berjejer dengan satu kolam yang memanjang. Jadi kamar mandi ini disekat namun bak mandinya tersambung. Jadi kalau sampo atau sabun habis bisa minta ke teman disebelah melalui bak mandi ini. Karena jumlah kamar mandi yang tidak sebanding dengan jumlah santri maka antrian panjang pun sudah jadi pemandangan sehari hari tiap pagi dan sore. Apalagi menjelang maghrib setelah kegiatan sore, waktu yang tersisa sedikit sebelum bel shalat jamaah membuat antrian sedikit kisruh oleh anak anak yang menggedor pintu kamar mandi jika temannya mandi terlalu lama. Namun bagi santri yang sedang berhalangan biasanya memilih mandi saat anak-anak lain sudah pergi ke musholla. Seperti saya saat itu, sambil mandi saya juga mencuci pakaian bareng Anggun.
Bel sudah berbunyi dan kamar mandi sudah sepi, terdengar suara shalawat dari masjid menunggu adzan maghrib. Saya mandi sambil ngobrol sama Anggun, karena tembok pembatasnya tidak menutup sampai atap. Hanya setinggi 2 meteran
Anggun : Na, kamu udah selesai?
Saya : Masih lama Gun. Kamu udah?
Anggun : Bentar lagi. Kamu mau ditungguin?
Saya : Gak usah, kamu duluan aja. Aku masih lama.
Tak lama kemudian saya mendengar Anggun membuka pintu kamar mandi dan keluar.
Anggun : Na kamu belum selesai?
Saya : belum, kamu duluan aja (saya ini orang yang kalo mandi lamaaaa banget)
Anggun : tapi udah gak ada orang Na, tinggal kamu sendirian lho.
Saya : iya udah gak papa duluan aja sana
Anggun : yaudah aku duluan ya
Tak lama kemudian suasana begitu sepi hanya suara yang saya buat yang terdengar. Tiba tiba saya mendengar ada suara orang yang sedang menangis.
"anak siapa tuh nangis di kamar mandi?" pikir saya. Ah, mungkin dia lagi kangen rumahnya. Saya sudah hampir selesai dan tinggal memakai baju. Tapi ada yang aneh, saat saya dengarkan suara itu semakin mendekat seperti berpindah dari satu kamar mandi ke kamar mandi lainnya. Dan saya baru ingat kalau anggun bilang tidak ada orang lagi selain saya. Dan saya juga tidak mendengar ada orang masuk. Karena pintu kamar mandi ini terbuat dari balok kayu yang ditutup seng, dan engsel-engsel yang sudah berkarat membuat suara berisik.
"Kreeekkk... Dhum" begitulah kira-kira bunyinya saat orang menutup atau membuka pintunya emoticon-Big Grin
Jadi kalau ada orang lain datang pasti saya tau. Dengan terburu buru saya selesaikan semuanya dan tanpa sadar membanting pintu "Dduaakk!!" setengah berlari saya keluar kamar mandi saat suara itu tepat di kamar mandi sebelah saya. Setelah keluar saya berdiri di jemuran yang ada di depan kamar mandi, dan memang tak ada satupun kamar mandi yang terisi. Buru-buru saya jemur pakaian, untung saja matahari masih belum sepenuhnya terbenam sehingga langit masih terang dengan sedikit warna kemerahan. Selesai menjemur saya langsung berlari menuju kamar, terdengar suara adzan dari masjid. Dan saat saya berlari terdengar suara tawa cekikikan dari belakang saya.
"Sial,, diketawain lagi" dan saya pun mempercepat lari menuju kamar.
Kamar Mandi (lagi)
Sore itu saat kegiatan sedang kosong (atau sedang libur? entah saya lupa) saya sedang mandi bareng Anggun di kamar mandi sebelah saya. Sambil ngobrol ngalur ngidul dan ketawa ketiwi. Anggun selesai lebih dulu dan menunggu depan pintu kamar mandi saya. Waktu itu saya lagi centil-centilnya, sampe bawa cermin kecil (entah apa fungsinya) dan sisir ke kamar mandi, hehehe. Padahal waktu sd mah boro-boro bedakan, sisiran pun harus ditarik dulu rambutnya sama mama biar gak lari. emoticon-Stick Out Tongue
Selesai mandi dan sudah berpakaian, ditambah sisiran. Sambil menghadap pintu saya bercermin. Awalnya hanya terlihat wajah saya, kemudian saat saya jauhkan sedikit cerminnya, di belakang saya duduk sesosok pria di atas tembok bak mandi yang setinggi pinggang, kepalanya terkulai aneh di bahu, seperti lehernya patah menatap saya dari belakang. Hawanya juga berubah jadi pengap banget, sampe saya keringetan. Padahal baru selesai mandi.
Dengan ketakutan saya buka pintu (dibanting). Anggun yang berdiri di depan pintu pun kaget.
"Kenapa Na?" tanya anggun
"Gune, di belakangku ada apa?"
Anggun mengintip ke belakangku. "Gak ada apa-apa. Kenapa sih?"
Kutarik tangannya, "nanti aja kuceritain di kamar" kataku sambil terus menggandeng tangannya meninggalkan kamar mandi.
Dari situ saya gak pernah lagi bawa cermin, bahkan suka parno sendiri kalo masuk kamar mandi yang ada cerminnya.