Langsung ke konten utama

TULAH - BAGIAN 1

Akhir Juli, di tahun yang tidak bisa disebutkan pastinya.

Adil masih mengingatnya dengan baik, bagaimana sore itu dia duduk terpaku di depan komputer di salah satu sudut rumah kontrakan berukuran 9x16 meter yang dua tahun terakhir ini disebutnya sebagai kantor.

Di luar hujan baru saja reda, tapi niat untuk segera pulang ke rumah sebelum hujan turun lagi itu belum juga datang. Tak peduli walau satu persatu rekannya mulai berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.

Karena bagi Adil, tempat ini sudah seperti rumah kedua baginya. Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding dengan berkutat dengan arsip-arsip kegiatan *** (Nama organisasi kemanusiaan, The Dark Tales tidak mendapat ijin untuk menyebutkannya) yang berderet di layar monitor seperti ini. Mensortir apa saja yang sudah, sedang dan akan dilakukan. Minggu ini masih ada dua kegiatan yang harus diselesaikan, belum lagi minggu berikutnya. Lalu tentang laporan kegiatan minggu lalu yang harus segera dikirimkan ke Pusat.

Adil menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mendesah berat. Dia lelah, tapi tak pernah menyesali pilihannya untuk menjadi relawan di tempat ini. Berkontribusi untuk kemanusiaan dan sosial. Terjun ke pemukiman kumuh di Kota sampai ke pelosok-pelosok desa yang membutuhkan bantuan, merupakan kepuasan batin tersendiri bagi Adil. Apalagi dia masih muda dan lajang. Uang masih belum menjadi prioritas utama.

Sampai akhirnya ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja dan nyaris Adil lupakan keberadaannya, berdering dengan begitu kencang. Membuatnya nyaris terlonjak kaget dan membuyarkan fokusnya pada layar monitor. Dengan cepat dia raih ponsel itu, takut itu datang dari kantor pusat atau panggilan darurat lain.

Tapi hanya ada deret nomor yang tertampil di sana. Entah milik siapa, tapi yang jelas nomor itu tak tersimpan di buku teleponnya.

Adil sempat ragu untuk mengangkat. Apalagi dia teringat dua bulan lalu, ketika dia dan tim memberikan bantuan tandon air di salah satu desa di daerah Pantai Utara yang berakhir kisruh karena bersinggungan dengan atmosfir pemilihan kepala desa yang sedang panas-panasnya. Masalah memang sudah selesai, tapi bukan tak mungkin preman-preman bayaran itu masih berusaha mengincarnya.

Ah, itu cuma paranoid tak beralasan! Adil nekat mengangkat telepon dan mendekatkannya ke telinga.

"Halo, leres niki kalihan Mas Adil... (Halo, benar ini dengan Mas Adil?)"

Suara di seberang begitu lembut. Seorang perempuan muda, tapi terdengar asing bagi Adil.

"Ngapunten (Maaf) Mas, saya Dea. Saya dapet nomor Mas Adil dari Mas Febri. Kebetulan dia kating saya di Kampus."

Ah! Sekarang jelas sudah bagi Adil. Si penelepon yang mengaku bernama Dea ini adalah adik tingkat Febri, adik laki-lakinya, di kampus. Tapi dia masih penasaran, untuk apa anak ini sampai repot-repot meminta nomor Adil dan meneleponnya.

"Kata Mas Febri, Mas Adil aktif di *** (Organisasi Kemanusiaan terkait) ya Mas? Saya bisa minta tolong?"

Entah karena apa, tapi saat itu juga Adil langsung merasa tertarik. Mungkin karena Dea menyebut nama organisasinya, membuat Adil berpikir bahwa ini mungkin tentang kegiatan amal atau sejenisnya.

"Oh, nggih. Ada apa, ya?"

"Jadi begini, Mas..." Ada jeda sejenak. Tapi terdengar cukup jelas di telepon bahwa Dea sepertinya sedang berbincang dengan orang lain di sana. Tapi entah apa yang mereka bicarakan. Seperti sedang berunding.

"Sekarang ini saya lagi menjalani program KKN di daerah G**********. Sudah berjalan dua minggu dari satu bulan. Awalnya semua berjalan lancar. Tapi kok sekarang ada masalah di salah satu desa tempat kami menjalankan proker. Terus saya berunding dengan teman satu tim KKN, dan saya pikir Mas Adil bisa bantu kami..."

KKN? Apa hubungannya dengan organisasiku? Adil kebingungan. Apalagi lokasi KKN anak ini ada di daerah G**********. Jaraknya bisa memakan tiga jam perjalanan jauhnya dari sini. Tapi Adil kepalang dibuat penasaran.

"Masalahe opo? (Masalahnya apa?)"

"Sebenernya aku ndak yakin, Mas..." Dea terdengar ragu.

"Tapi menurut Mas Adil, apa normal di jaman sekarang masih ada orang gila yang dipasung dan ditaruh di kandang kambing? Apalagi seorang perempuan."

Adil merasa dirinya tersengat seketika. Adrenalinnya naik ke ubun-ubun dengan begitu kilat. Rasa keadilan dan kemanusiaannya seakan dilukai, dan itu membuat darahnya bergejolak.

"Ora normal! Sama sekali ora normal kui. Wis bener kamu menelepon kesini! Sekarang kamu kasih tahu nama desanya apa, nanti aku minta back up relawan-relawan yang ada di G********** untuk bantu evakuasi." Spontan Adil berujar.

"Nggih, Mas. Nuwun. Nama Desanya Srigati (bukan nama sebenarnya), Kecamatan *****, Kabupaten G**********."

Dea menutup telepon dan menaruhnya kembali ke dalam kantong celana jeans.

Dia sedikit menggerutu kesal sebelum memutar tubuh ke belakang. Ke arah sesosok pria berkacamata dengan rambut hitam lurus yang disisir ke samping dengan rapi, yang sedari tadi berdiri seperti orang bodoh di belakangnya itu.

"Kakaknya Mas Febri nyanggupin. Terus piye?"

Dea bertanya, cenderung sedikit menuntut kepada kawan yang memakai almamater yang sama dengan yang dipakainya saat ini. Matanya mendelik tajam.

Pria itu tampak terbata-bata menjawab. Seakan dia sedang dihakimi oleh Dea. "Piye apane, De? (Gimana apanya, De?)"

"Piye apane ndasmu, Gil! (Gimana apanya kepalamu, Gil!)”

Dea tampak tak mampu lagi menahan emosinya. Bahkan dia mengacungkan jari telunjuknya ke arah dada Gilang, nama pria itu. Ketua tim KKN sekaligus mahasiswa yang paling dekat dengan Dea karena kebetulan mereka berasal dari Jurusan yang sama. “Ini semua gara-gara kamu!”

"Sabar De, sabar. Kita lagi di pinggir jalan besar ini!"

Walaupun terbakar amarah, omongan Gilang barusan sedikit menyadarkan Dea. Mereka berdua kini sedang berada di pinggir taman alun-alun Kabupaten. Dia menyernyitkan mata, mengamati sekeliling. Benar saja! Omongan nada tingginya barusan, ternyata menarik perhatian beberapa orang yang berada di sekitar mereka.

Dea menarik nafas panjang-panjang. Berusaha menenangkankan hatinya yang sedang kacau balau. "Kok bisa kamu bilang kamu ndak mau disalahin? Sekarang siapa yang pertama usul buat masukin Srigati ke dalam proker? Siapa yang pertama punya inisiatif nekat datang kesana sembunyi-sembunyi walau sudah jelas dilarang sama Pak Kades??"

"Aku bakal tanggung jawab De, oke? Yang penting sekarang kamu tenang dulu, terus kita balik."

Dea melirik ke motor matic milik Gilang yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Membuatnya teringat teman-temannya yang lain yang kini sedang menunggu mereka kembali. Teman-teman yang berfikir bahwa Dea dan Gilang sedang pergi ke Kabupaten untuk membeli beberapa kebutuhan proker yang masih kurang. Padahal nyatanya, mereka berdua pergi jauh-jauh kesini hanya untuk meminta bantuan kepada siapapun yang bisa memberi mereka bantuan. Dea jadi merasa bersalah dan itu membuatnya marahnya kian menjadi-jadi kepada Gilang.

"Sopo wae sing ngerti soal Srigati selain kamu dan aku?" Dea bertanya dengan dingin. Bahkan dia tak memandang Gilang.

"Cuma aku dan kamu. ..aku yakin cuma aku dan kamu!”

Dea menghela nafas dalam-dalam. Berusaha menahan kesabaran. "Oke, yang sudah terlanjur mau diapain lagi. Tapi sekali ini aja, jawab aku dengan jujur, Gil..."

Dea mendekatkan tubuhnya ke Gilang. Berusaha mengintimidasi. "Apa niatmu sebenernya dengan memasukkan Srigati ke dalam proker?"

"Aku ndak punya niat apa-apa, De..."

Tapi jawaban itu malah membuat benteng kesabaran Dea runtuh seluruhnya. "Asu!! Ojo ngapusi aku!! (Anjing , jangan nipu aku!!) Kamu udah tahu Srigati bahkan sebelum kita berangkat KKN kan?!"

Gilang sepertinya tak mampu lagi menyembunyikannya dari siapapun, khususnya kepada Dea. Posisinya sekarang jelas terdesak. Dan suka atau tidak, dalam hati Gilang mengakui bahwa ini semua sudah terlampau jauh. Tak ada pilihan lain selain mengaku.

"Aku nemu jurnal lawas di perpustakaan kampus, De. Jurnal tahun 1986 yang ngebahas soal Srigati. Tentang pertanian dan tanah yang ada di sana.”

Dea menyernyitkan dahi. Tak paham lagi apa yang ada di pikiran Gilang. “Bahkan kita bukan mahasiswa pertanian, Gil! Apa yang kamu cari di sana, heh?? Tentang apa jurnal itu?!”

“Tentang...” Gilang seperti menahan diri untuk tidak menangis.

“Tentang paradoks tanah di sana. Bagaimana pada masa-masa paceklik mereka masih bisa panen jagung, ubi dan singkong, sedangkan desa-desa di sekitarnya mengalami kelaparan dan kesulitan air. Bahkan yang aku dengar, ada sawah yang...”

"Wis, ra usah kakean cangkem! (Udah, jangan kebanyakan mulut!) Sekarang ayo balik dan tunjukin ke aku jurnal itu!!"

Gilang menurut saja ketika Dea menggiringnya menuju motor.

"Kowe pancen asu, Gil..." Tutupnya sebelum motor melaju meninggalkan alun-alun Kabupaten.

Postingan populer dari blog ini

Privacy Policy

  Narastudio built the app as a Free app. This SERVICE is provided by Narastudio at no cost and is intended for use as is. This page is used to inform visitors regarding our policies with the collection, use, and disclosure of Personal Information if anyone decided to use our Service. If you choose to use our Service, then you agree to the collection and use of information in relation to this policy. The Personal Information that we collect is used for providing and improving the Service. We will not use or share your information with anyone except as described in this Privacy Policy. Information Collection and Use For a better experience, while using our Service, I may require you to provide us with certain personally identifiable information. The information that I request will be retained on your device and is not collected by me in any way. The app does use third party services that may collect information used to identify you. Link to privacy policy of third party service prov...

Misteri Suara Tanpa Wujud

Malam itu pekat tak berbintang, hujan sejak sore sudah mulai sedikit reda, menyisakan gerimis halus ... membawa kesejukan. Namun, membuat sekujur tubuh merinding juga. Bagaimana tidak, aku hanya sendirian di rumah kala itu. Ayah dan ibu sedang ke luar kota menjenguk kakak yang habis lahiran. Kebetulan aku tak ikut, karena sering mabuk darat juga karena perjalanan ke rumah saudariku itu terbilang cukup memakan waktu lama. Bisa pegal pinggangku kelamaan duduk dalam mobil. Malam itu, lepas makan semangkuk indomie kaldu dicampur cabe lima biji plus perasan jeruk nipis sebelah, cukup membuat badan sedikit hangat. Makanan penggugah selera itu selalu menjadi makanan pengusir dingin kala malam tiba dengan segudang hawa dingin yang mencekam. Musim hujan selalu membawa berkah bagi Mpok Iin, penjual indomie langgananku di sudut jalan depan. Stok jualannya selalu laris olehku, pecinta mie kaldu. Setelah habis melahap semangkuk makanan andalan, segera bergegas ke ruang belakang rumah. Dapur maksudn...

Pengalaman Bertemu Hantu/Jin (Chapter Jogjakarta)

Selamat datang di Jogja, Kami (makhluk ghoib) bukan hanya gossip Sahabat-sahabat ane yg pernah ane sebutin di chapter Palembang, semua berdiskusi mengenai pilihan universitas sebagai pijakan lanjutan pendidikan yg lebih tinggi. rata-rata sahabat ane memilih melanjutkan ke Universitas yg ada di Sumsel pula. Sedang ane, sepakat dengan si babay untuk melanjutkan ke Jogjakarta di Universitas yg terkenal dengan jaket warna tanahnya itu. Untuk memuluskan persiapan kami supaya dapat lulus, si babay menyarankan untuk ambil lembaga kursus intensif untuk persiapan SPMB. Neu**n yg berada di nyutran menjadi pilihan kami berdua dan setelah melaporkan biaya ke emak ane. Alhamdulilah emak ane setuju dan ane pun terdaftar di kursus ini. Rupa2nya emak si babay daftarin dia bukan di kursus sini, malah di pesaingnya. ini pegimane cerite, yg nyaranin malah ke tempat laen wakakkakakkaa. dengan penuh rasa tidak enak dan kekecewaan dengan emaknya, si babay berulang kali meminta maaf ane gansis.  Ya sudah...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 4) Sekitar jam 8an malam ane akhrinya sampai di rumah. Emak ane ternyata lagi nonton tivi barenga adik2 ane. Sembari melepas baju di dalam kamar ane, telpon rumah pun berdering. Kebetulan karena memang di renovasi rumah ane, dari ruang tamu jadi kamar ane, ne telpon diinapkan di kamar ane. Mungkin disengaja apa kagak, tapi memang ne telpon rata2 berbunyi nyariin ane. Setelah berganti pakaian seragam rumah ane, celana pendek dan singletan, ane pun mengangkat ne telpon. Ternyata si melissa yang nelpon. Dia menanyakan dari tadi sore nelpon ane masih belum balik darimana. Ane pun menjelaskan habis ngajak shopping si billy yang pengen berubah dari bujang band malaysia jadi bujang band punk rock skaters. Kami pun terbahak-bahak dan ane menceritakan ekspresi si Billy yg menghabiskan 2 juta rupiah cuman untuk 3 kaos, 1 celana panjang dan 1 celana pendek wakakkakaka. Padahal dia niatan juga mau beli tas dan sepatu buat ke sekolah seperti si lexi da...

Lexi Terkencing-kencing

Beberapa hari setelah mendengar melisa yang sudah tiada, kami pun mencoba mengikhlaskan dan cuman mengingat melisa sebagai bagian kenangan yang indah waktu sekolah. Tampaknya bekas trauma dan sedih tentang melisa ini membuat kami benar2 enggan buat membahas dan mengingat2 kejadian maupun kenangan bersama melisa. Bahkan beberapa cew famous yg pernah membully si melisa merasa bersalah dan menemui ane buat menyampaikan permohonan maaf ke melisa (dipikirnya ane dukun apa bisa ngirim salam ke arwah). Ane bahkan sempet candain mereka uda ane sampaikan nanti melisa langsung datang sendiri ngobrol langsung dengan mereka, yang diikuti rasa horor dan kepanikan dari wajah2 cew famous ini wakakakakka. "eh besok sabtu, kita bikin tenda sendiri aja", ajak lexi "emang lu ada tenda?", tanya ane "ada keknya, tapi lupa aku taruh dimana nanti aku cek dlu", jelas lexi. "gua ada, tenang aja nj*ng, tapi tenda ku ne gede banget", ujar mister "ah bagus kalau gede, ...

Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6)

 Teman Kelas Ane Meninggal Misterius (PART 6) Sebelum ane mulai lanjut ke part 6, ini semua bener2 terjadi sesuai yg ane alamin dan saksikan dengan beberapa teman tanpa bermaksud meremehkan agama tertentu. Cerita pengalaman ane ini cuman buat perenungan viewer aja, terutama bagi ane sendiri saat itu yg bener2 ga percaya bahwa jiwa yg dikorbankan untuk Iblis itu sebagai persembahan memang ada. Jangankan di pedesaan, di kota seperti kota batam saat itu aja terjadi. Wallahualam gansis. Oke mari kita mulai. Setelah mendapatkan goreng2an bonus dari sisa2 penjualan kantin, ane pun dengan beringas mengkonsumsinya. Maklum, sudah masuk jam makan siang, apalagi abis ngangkut si melisa yg berbobot seperti beras sekarung 50kg. Disela-sela kami menunggu bel yg akan menandakan berakhirnya jam pelajaran hari itu, ane pun menyarankan si melisa buat sms sopirnya buat jemput sekarang. Si melisa pun menuruti saran ane, segera dia mengambil hape dari sakunya dan mengetik sms. "eh nanti keluar UKSnya ...

PEMBERANGKATAN TERAKHIR

“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.” KERETA MALAM -PEMBERANGKATAN TERAKHIR- A THREAD Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'. Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update. Maleman kita mulai.  Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--  --Aku yakin betul kalau aku menaiki kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku berjalan kaki sepanjang rel yang entah muncul dari mana.  Senin malam, 2006. Aku hendak pulang ke Yogya karena mendapat kabar bapakku sakit. Kala itu aku masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di pinggiran Ibu Kota.  Karena dapat kabar men...

”Aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.”

 “Aku seorang penembang panggung dan aku memakai susuk. Keputusan mencabut susuk kukira hal yang mudah. Tapi sekarang, aku bertarung melawan setan yang tertanam dalam susuk sendiri.” Tengah malam, di satu rumah berbilik kayu, seorang wanita bernama Taya tersentak dari tidur lalu mengerang kesakitan. Urat-urat di wajahnya membiru menonjol keluar menegang. Napasnya tercekat, membuat suaranya berhenti di tenggorokan—  “Kak!! Kakak kenapa?!” Sani, adik Taya satu-satunya panik ketika mendapati kakaknya meringis kesakitan. Ada yang tak biasa dari wajah Taya—di sekujur pipi, dagu dan kening menonjol garis-garis keras serupa jarum-jarum halus.  Sani menyadari sesuatu, buru-buru dia membekap mulut sang kakak agar tak bersuara. “Ssssssttttt” isyarat Sani pelan sambil menangis tanpa suara  Taya mengatur napas, kedua tangannya menggenggam erat sprei dan matanya mendelik ke atas menahan sakit. “KRENGG!!” Suara lonceng terdengar mendekat.  “KREENGG!!” “KREEENGGG!” Lonceng ter...